“Puisi yang Menolak Jadi Puisi Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa. Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu: segala yang mencoba kusebut “puisi” hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri. Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan. Biarlah aku menuliskan sesuatu yang tidak ingin memiliki irama, tidak ingin dipuji, tidak ingin dikenang. Sebab apa gunanya metafora jika seluruh luka telah menolak dibungkus oleh keindahan? Apa gunanya diksi jika ada kebenaran yang terlalu telanjang untuk diberi pakaian? Aku menghapus semua perumpamaan. Aku menghapus semua simbol. Aku menghapus semua milikku yang pernah tampak seperti seni. Biarkan yang tersisa hanya satu hal: aku yang tidak sanggup berbohong lagi. Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku, membuangnya ke dalam sumur paling gelap tempat suara tidak kembali dan renungan pun mati tanpa gema. Sebab setiap kali aku menulis, aku merasa sedang mencurangi hidup. Aku membuat jejak-jejak palsu, mengunggulkan penderitaan seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga. Padahal kebenarannya sederhana dan kasar: aku menulis karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikan diriku dari kehancuran. Dan hari ini, bahkan itu pun tidak berhasil. Kalau saja aku bisa, aku ingin menanggalkan semua bentuk. Tidak ada baris-baris. Tidak ada jeda. Tidak ada frasa yang memikat. Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri tanpa belas kasihan. Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur, bukan sebagai kalimat yang indah. Aku ingin hadir sebagai kegagalan, bukan sebagai karya yang menaklukkan. Aku ingin hadir sebagai manusia, bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan. Jadi inilah aku: duduk di antara puing-puing huruf, memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku. Aku menolak estetika sebagaimana tubuh menolak racun. Aku menolak menjadi penyair karena malam ini aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhenti menghindari dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi— melainkan kemungkinan bahwa puisi yang kutulis selama ini tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun, bahkan aku sendiri. Dan jika demikian, maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku: Puisi yang ingin menjadi luka, bukan bahasa. Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak, bukan frasa yang tanpa cela. Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci, bukan topeng yang kukagumi. Puisi yang menolak menikamkan kecantikan, dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar. Puisi yang menolak menjadi puisi, karena barangkali— ini satu-satunya cara aku bisa kembali menjadi manusia. November 2025”
Quote by Titon Rahmawan
Author
You May Also Like
Source: Weyward
“Time sleeping is always well spent.”
Source: Dream Storm Sea
Source: Dream Storm Sea
Source: The History of the Kings of Britain