Quote image editor
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.” — Titon Rahmawan