Quote image editor
“Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025” — Titon Rahmawan