Quote image editor
“TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025” — Titon Rahmawan