Quote image editor
“Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025” — Titon Rahmawan