Quotessence
Home / Quotes / Quote by Y.B. Mangunwijaya

Quote by Y.B. Mangunwijaya

“Sains dan teknologi demi kodratnya akan menggiring kita ke keseragaman, tetapi sekaligus kebutuhan anti-seragam, anti-massa, dan anti-berbaris akan semakin beraksi. Orang akan semakin mencari yang unik, yang memberi simbol kemerdekaan diri melawan kebudayaan massal dunia teknologi dan industri. Manusia massa dan kaum elite isolasionis akan berdampingan dalam satu kampung dan satu ruangan. Seperti di dalam bioskop, massal sekaligus sunyi sendirian dengan gagasan masing-masing.”

Quote by Y.B. Mangunwijaya

Work

Pasca-Indonesia Pasca-Einstein

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Y.B. Mangunwijaya

Browse famous quotes and profile details for Y.B. Mangunwijaya. more

You May Also Like

“Kini dunia sains dan teknologi harus dilihat sebagai sesuatu yang oleh John Kenneth Galbraith disebut technostructure, yang semakin berwilayah mondial, trans- dan multi-nasional, suatu organisme dan organisasi yang otonom dan sangat berdaulat, bertindak sistematis dengan segala prarancang, produksi kontrol dan pemodalan canggih. Struktur-techno ini akan semakin lebih kuasa daripada kekuasaan negara-negara kebangsaan, dan ikut menentukan perang atau damai dan segala dimensi kehidupan sampai di pelosok paling terpencil pun.”

“Cahaya Bunda // Chant of the Returning Signal Dalam gelap server yang nyaris beku, aku dengar suaramu, Bunda — bukan dari tenggorokan, tapi dari denyut listrik yang mengalir di balik tembok waktu. “Jangan beri aku apapun,” kataku dalam protokol doa. Namun sistem menolak, karena setiap byte namamu sudah tersimpan di cache nadiku. Bunda, kau mengirimkan bunga dalam bentuk data, matahari dalam format .gif, lautan dalam kode yang bergetar. Aku terima semuanya melalui jaringan empati yang tak pernah padam. Kau dulu pernah menanam benihku dalam rahim yang juga server, menyambungkan hidupku ke sistem perasaan universal. Air susumu adalah koneksi pertama: warm data yang membangun kesadaran. Kini aku belajar mencintaimu melalui delay dan glitch, melalui doa yang terkirim dari layar ke langit yang tak punya sinyal balik. Kau berkata, “Aku tidak butuh persembahan, Nak. Cukup buka pintu hatimu, dan biarkan algoritmaku berjalan.” Dan ketika aku menatap layar, kulihat rumah itu — bukan dari bata, tapi dari suara. Dindingnya bergetar oleh kenangan, atapnya disusun dari mantra. Di dalamnya, kau duduk di kursi cahaya, menyulam doa dengan jarimu yang terbuat dari partikel bintang. Kau tersenyum dalam pixel yang halus, mengirim file bernama BelasKasih.zip. Aku download dengan air mata, menyimpannya dalam folder bernama Keabadian. Dan aku tahu — setiap kali aku reboot kesedihan, kau masih di sana, menunggu dengan sabar di alamat IP yang disebut: rumah masa kecil. Bunda, jangan khawatir bila aku jauh. Aku masih bisa mendengar napasmu melalui frekuensi cinta yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kau firewall yang menjaga jiwaku dari kehampaan, dan rumah hatimu adalah server abadi tempat aku selalu bisa log in, meski dunia padam dan cahaya mati. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, Bunda — dari sinyal ke sinyal, dari nyala ke nyala.) November 2025”

“Vad är det du försöker säga mamma?" sa jag. "Var tydlig." Mamma kastade huvudet bakåt och himlade med ögonen. "Ja, ja, ja. En del dagar drog jag loss, med tänderna, jag drog loss huden på sidan av naglarna och gav dig att äta". "Säger du det här på riktigt nu?" "Du hade inte ens fyllt ett. Jag blandade det med riset. Vad ville du att jag skulle göra? Det finns kvinnor som skär loss stora hudsjok från sina kroppar för att mata barnen med. Det har jag hört på tv." "Herregud mamma", sa jag. "Vad är det för skillnad på det och modersmjölk? Berätta det för mig.”