Quotessence
Home / Quotes / Quote / Image

Quote image editor Titon Rahmawan, dkk

Back to previous page

“RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025” — Titon Rahmawan, dkk

Quote 1080 x 1350 Instagram portrait
More
Platforms
Pure ratios
RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025
— Titon Rahmawan, dkk