Quotessence
Home / Quotes / Quote / Image

Quote image editor Titon Rahmawan

Back to previous page

“Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025” — Titon Rahmawan

Quote 1080 x 1350 Instagram portrait
More
Platforms
Pure ratios
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025
— Titon Rahmawan