Quotessence
Home / Quotes / Quote by H.L. Sudler, Night as We Know It

Quote by H.L. Sudler, Night as We Know It

“In Los Angeles everybody wears a mask, telling stories that aren't quite the truth but aren't quite a lie. The warm weather makes it easy to stay. The strange thing is: you can feel your soul being bought and sold, little by little, piece by piece. You feel it dying, being taken away from you, dripping out of you. Especially at night, when it's a dark, starless sky. Night as you know it, and night as we know it...here...are two different things.”

Quote by H.L. Sudler, Night as We Know It

Author

H.L. Sudler, Night as We Know It

Browse famous quotes and profile details for H.L. Sudler, Night as We Know It. more

You May Also Like

“Los Angeles was black, full dark no stars, hills everywhere. There were long stretches of road and sidewalks, on either side neon signs, overhead street-lamps, standing in protest to the overwhelming blackness of the night. The town's lighting seemed powerless against it. Houses were darkened, some hidden on back roads, behind gates and walled gardens. No one seemed to walk anywhere at night. And yet, the city seemed alive. Not like New York, not like a live wire, a town hopped up on electricity. Los Angeles was different, like a cobra in the grass, creeping, coiling onto itself in the night...”

“How many diners should a man rob before he turns the gun on himself? The question whispered in Richie’s ear as he swallowed the last bite of pancake. He and Alabama had gotten the idea of stealing from diners when they caught Pulp Fiction at a four-year anniversary screening in the New Beverly Cinema in LA last year where they’d gone to shoot dope and drift among the neon haze of Hollywood glitz, thinking Shit, look how in love they are holding up that diner, that could be us. But a dozen diners later the charm had worn off and they’d returned to being just a couple junkie losers stuck in the small-time.”

“The needle plunged into Richie’s skin like a lover. “I’ll be right behind you,” he heard Alabama say, but his blood was cold now and his eyes were open but unseeing and a warmth was spreading up his bones from his toes as all tension in his body melted and seeped out his pores, all worries and fears and failures, and he knew that everything would be fine, perfectly, wonderfully fine, and that it had been silly to have ever worried at all. I’ll be right behind you. The words repeating in his mind like an echo as he zoomed far away from this dirty motel room, from this dirty life. See you soon.”

“Nafsu, Kehati-hatian dalam Suasana Tepat untuk Bercinta (Shades of "In the Mood for Love, 2046, Lust, Caution, Infernal Affairs, Chungking Express, Hero & Neo-Noir.") Tony, setiap kali kau melintas di layar, dunia berhenti bernapas seolah kamera Wong Kar-wai telah mengikat denyut bumi pada nadi kecil di bawah matamu. Tapi aku hendak menulis tentang hal lain— tentang kota-kota yang menua atau tentang tubuh manusia yang gagal memahami keinginan— lalu kau muncul begitu saja, seperti bisikan neon yang memaksa ingatan mundur ke jalan-jalan sempit Hong Kong pada menit yang tak pernah diputar ulang. Bagaimana mungkin kau memikul begitu banyak kesepian, Tony? Kesepian yang licin seperti hujan, dan setajam bilah yang pernah kau selundupkan ke balik lengah sejarah. Setiap peran yang kaumasuki bukanlah karakter— melainkan lorong psikis yang kau bongkar dengan tangan hening. Chow Mo-Wan, yang menyembunyikan rahasia di lubang kuil Angkor Wat, Masih berjalan di belakangmu seperti bayangan yang tak rela mati. Aku ingin bicara denganmu, Leung bukan sebagai penulis, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai seseorang yang tahu bagaimana rasanya menjadi rahasia yang tidak ingin disembunyikan. Aku membawa segelas bir, angin malam, dan suara klakson yang patah. Di meja kecil itu, kau hanya menatap; seolah seluruh sejarah ketidaksetiaan sedang berusaha menulis ulang dirinya sendiri di balik tajam sorot matamu. Chiu-wai, aku tak lupa bagaimana kau mencabik tubuh gadis itu dalam Lust, Caution: bukan dengan jemarimu, tetapi dengan kehampaan yang mematuhi logikanya sendiri. Aku benci padamu— sekaligus iri pada dingin pisau itu, pada caramu memegang nafsu sebagai alat penyiksaan. Mr. Yee, kau bilang: "Satu sudah mati. Separuh otaknya hilang. Saya mengenali yang lainnya." Dan aku tahu, bahkan tanpa kamera, kau tetap akan tersenyum dengan keanggunan seorang pembunuh yang terlalu elegan untuk merasa bersalah. Namun ketika kau berlari menembus lampu-lampu jalan raya untuk menyelamatkan sekelebat hidup yang terlihat rapuh, seolah kematian pun ragu menelanmu. Adegan itu indah— indah karena dunia sesaat lupa bahwa kau tidak pernah benar-benar ingin hidup. Kau tahu, Tony, aku masih mengikutimu ke kedai mie yang tua itu. Aku memilih kursi paling belakang, mendengar sumpit menemukan mangkukmu seperti dentang jam yang menunda takdir. Kau berbicara lewat telepon kepada perempuan yang bukan istrimu dan tanpa sadar menghidupkan kembali dosa-dosa yang lupa kau kubur. Aku melihatmu di meja mahyong. Aku tahu ekspresi wajah pemain curang. Dan kau, Leung— kau bukan Dewa Judi Ko Chun, meski dunia ingin percaya bahwa keberuntunganmu datang dari langit, bukan dari kehancuran batin yang luar biasa detail. Aku seharusnya membunuhmu waktu itu, waktu kau telanjang dan tertidur bersama istriku dalam mimpi yang kau curi. Tubuh kalian basah, sunyi, dan terlalu jujur. Tapi aku tidak jadi melakukannya. Bukan karena kau tak layak mati— melainkan karena aku ingin melihat apa yang tersisa dari cahaya ketika ia melewati matamu. Apa itu keberanian, Tony? Apa itu kehati-hatian? Apa itu keinginan yang terus mengintai di balik sutra, kain, dan rahasia? Kau tak akan bisa menjawab. Kau hanya bisa hidup dalam kilau film yang selalu menunda tamat, karena realitas terlalu sempit untuk menampung duka yang kau bawa. Dan aku, aku akan terus membuntutimu dari film ke film, dari kehidupan ke kehidupan, menunggu saat kau sadar bahwa yang kukagumi bukanlah dirimu— tetapi kehancuranmu yang tak pernah berakhir. (2024 - 2025)”