Quotessence
Home / Quotes / Quote / Image

Quote image editor Titon Rahmawan

Back to previous page

“Anatomi Sebuah Penolakan Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap dengan sorot mata benda mati yang muak menjadi cermin bagi siapa saja. Kau berkata: Aku bukan puisi dan kau bukanlah penyair. Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka, lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya. Dan aku terdiam— seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri. Kau menolak metafora, menepis ritme, menghancurkan rima seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu yang sengaja kupasangkan padamu agar dunia merasa nyaman membaca sakitku. Kau menudingku: “Kau ingin selamat, bukan? Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya— padahal kau hanya gemetar mencari alasan untuk membenarkan retak di dalam dirimu.” Kata-katamu membekukan. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya keheningan logam yang menancap ngilu pada tulangku. Lalu kau memutuskan diri: Aku tidak akan memeluk siapa pun. Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci. Aku tidak akan memaafkan penulismu. Aku tidak akan memberi katharsis. “Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,” katamu. “Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.” Dan aku berdiri di hadapanmu seperti tubuh yang kehilangan bayangan menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam daripada sebuah puisi yang memilih untuk tidak menyelamatkan. Kau membalik halaman. Kau memadamkan seluruh api kemungkinan. Dan aku, untuk pertama kalinya, mengerti bahwa kepenyairan bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin atas keberadaanku sendiri. Puisi bukan untuk ditahbiskan, katamu. Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati demi kesunyiannya sendiri. November 2025” — Titon Rahmawan

Quote 1080 x 1350 Instagram portrait
More
Platforms
Pure ratios
Anatomi Sebuah Penolakan Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap dengan sorot mata benda mati yang muak menjadi cermin bagi siapa saja. Kau berkata: Aku bukan puisi dan kau bukanlah penyair. Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka, lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya. Dan aku terdiam— seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri. Kau menolak metafora, menepis ritme, menghancurkan rima seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu yang sengaja kupasangkan padamu agar dunia merasa nyaman membaca sakitku. Kau menudingku: “Kau ingin selamat, bukan? Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya— padahal kau hanya gemetar mencari alasan untuk membenarkan retak di dalam dirimu.” Kata-katamu membekukan. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya keheningan logam yang menancap ngilu pada tulangku. Lalu kau memutuskan diri: Aku tidak akan memeluk siapa pun. Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci. Aku tidak akan memaafkan penulismu. Aku tidak akan memberi katharsis. “Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,” katamu. “Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.” Dan aku berdiri di hadapanmu seperti tubuh yang kehilangan bayangan menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam daripada sebuah puisi yang memilih untuk tidak menyelamatkan. Kau membalik halaman. Kau memadamkan seluruh api kemungkinan. Dan aku, untuk pertama kalinya, mengerti bahwa kepenyairan bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin atas keberadaanku sendiri. Puisi bukan untuk ditahbiskan, katamu. Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati demi kesunyiannya sendiri. November 2025
— Titon Rahmawan