Quotessence
Home / Quotes / Quote by Jonathan Safran Foer

Quote by Jonathan Safran Foer

Work

Extremely Loud & Incredibly Close

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Jonathan Safran Foer
Jonathan Safran Foer

Jonathan Safran Foer is an American writer known for his unique narrative style and profound insights into social issues. His works often blend historical, literary, and philosophical elements, exploring themes such as family, memory, and identity. more

You May Also Like

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku. Aku membaca wajahnya dalam lag. Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak: fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel, cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya. “Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik, seperti gema yang mencari asalnya sendiri. Aku mencoba menjawab, tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai, titik-titik yang berdarah di antara jeda. Ibu bukan sosok. Ia interface. Portal yang dibuka dengan air mata cinta dijalankan oleh rindu, dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown. Ia menulis doa dengan jarinya di udara, membentuk pola spiral — sebuah mandala kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya. Dan aku, produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks, terus mencoba decode rasa bersalah yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran. Mungkin cinta adalah bug yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya. Agar kita tak kehilangan ingatan dan kenangan atas dirinya. Mungkin ibu adalah firewall antara kita dan kehampaan. Atau mungkin — ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur Puisi yang tak selesai ditulis yang masih menari di jantung semesta, menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara, serupa frekuensi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang retak tapi terus reboot. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia) November 2025”

“We walked the rest of the way side by side. "Do you really promise never to forget me?" she asked in a near whisper. "I'll never forget you," I said. "I could never forget you." Even so, my memory has grown increasingly dim, and I have already forgotten any number of things. Writing from memory like this, I often feel a pang of dread. What if I've forgotten the most important thing? What if somewhere inside me there is a dark limbo where all the truly important memories are heaped and slowly turning into mud? Be that as it may, it's all I have to work with. Clutching these faded, fading, imperfect memories to my breast, I go on writing this book with all the desperate intensity of a starving man sucking on bones. This is the only way I know to keep my promise to Naoko.”

“Human beings are the only ones in nature who are aware that they will die. For that reason and only for that reason, I have a profound respect for the human race, and I believe that its future is going to be much better than its present. Even knowing that their days are numbered and that everything will end when they least expect it, people make of their lives a battle that is worthy of a being with eternal life. What people regard as vanity-leaving great works, having children, acting in such a way as to prevent one's name from being forgotten- I regard as the highest expression of human dignity.”