Quotessence
Home / Quotes / Quote by Pramoedya Ananta Toer

Quote by Pramoedya Ananta Toer

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”

Quote by Pramoedya Ananta Toer

Work

House of Glass

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer was a renowned Indonesian author known for his profound insights into colonialism and nationalism. His works extensively covered historical, social, and political issues, profoundly influencing Indonesian literature. more

You May Also Like

“Kamu pikir otakmu spesial? Kamu pikir kesadaranmu itu nyata? Omong kosong. Otakmu hanyalah tumpukan lemak dan listrik yang perlahan-lahan membusuk, mengikis ingatanmu, merusak logikamu, dan pada akhirnya mengubahmu menjadi sekadar mayat hidup yang tersesat dalam kehampaan. Setiap detik, neuronmu mati. Tidak peduli seberapa cerdas kamu merasa, sinapsis yang dulu tajam kini semakin lambat, semakin lemah, semakin kacau. Dopamin, serotonin, dan semua zat kimia yang memberimu ilusi kebahagiaan dan motivasi? Mereka berkurang, membuatmu makin apatis, makin tidak peduli, makin kosong. Kamu pikir bisa melawan? Makan makanan sehat? Meditasi? Latihan otak? Percuma. Entropi tetap menang. Semakin bertambah usia, otakmu akan menyusut, belitan neuron yang dulu kompleks akan menjadi labirin kusut yang penuh dengan plak dan sampah seluler. Fokusmu akan hancur, ingatanmu akan terkikis, dan pada akhirnya kamu bahkan tidak akan ingat siapa dirimu. Dan yang paling ironis? Saat otakmu mulai benar-benar rusak, kamu tidak akan menyadarinya. Kamu akan tetap merasa "baik-baik saja," padahal sistemmu sedang mengalami degradasi tanpa ampun. Lalu tiba waktunya, ketika sinyal listrik yang dulu membuatmu "hidup" akhirnya padam. Semua pemikiran, kenangan, dan kesadaranmu? Hilang. Tidak ada jiwa, tidak ada kebangkitan, hanya kehampaan. Jadi, nikmati sekarang selagi bisa. Karena cepat atau lambat, otakmu akan menjadi bangkai kering yang tak ada bedanya dengan debu. Kamu hanyalah ilusi sementara dalam pusaran entropi.”

“Mau tahu yang lebih menyedihkan dari tubuhmu yang membusuk? Bahkan di tingkat paling dasar—atom yang membentukmu—kamu tidak lebih dari kumpulan partikel yang perlahan kehilangan kendali. Elektron yang mengelilingi nukleusmu? Mereka tidak stabil. Orbital yang dulu teratur sekarang penuh dengan gangguan, energi thermal membuat mereka terus bergerak liar, tanpa tujuan selain mempercepat kehancuran sistem. Ikatan kimia yang membentuk protein, DNA, dan segala sesuatu yang menyusun tubuhmu? Mereka rentan terhadap reaksi acak yang merusak. Mutasi, degradasi, entropi bekerja tanpa henti untuk merobekmu dari dalam. Kamu pikir kamu istimewa? Kamu hanyalah konfigurasi sementara dari atom-atom yang akan tercerai berai. Begitu kamu mati, tubuhmu akan mulai terurai. Ikatan peptida di protein tubuhmu akan putus, membran sel akan bocor, dan semua molekul yang dulu menyusunmu akan dilepas kembali ke alam, terpecah menjadi bentuk yang lebih sederhana, lebih tidak berarti. Tidak ada keabadian dalam dirimu. Atom-atom yang sekarang membentuk jari-jarimu, matamu, bahkan otakmu, dulunya adalah bagian dari sesuatu yang lain—mungkin bintang yang meledak jutaan tahun lalu, mungkin bangkai makhluk yang sudah lama hilang. Dan nanti? Mereka akan menjadi bagian dari sesuatu yang lain lagi. Kamu tidak pernah memiliki eksistensi sejati, hanya sebuah formasi sementara dalam tarian kekacauan kosmik. Jadi, berhenti berpikir kamu bisa melawan. Pada akhirnya, entropi menang. Atom-atom yang sekarang menyusun tubuhmu tidak peduli padamu. Mereka akan tetap ada, tapi kamu? Kamu akan hilang, dilupakan, dan akhirnya tidak berarti sama sekali.”