Quotessence
Home / Quotes / Quote / Image

Quote image editor Titon Rahmawan

Back to previous page

“KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025” — Titon Rahmawan

Quote 1080 x 1350 Instagram portrait
More
Platforms
Pure ratios
KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025
— Titon Rahmawan