Quotessence
Home / Quotes / Quote by Reena Kumarasingham

Quote by Reena Kumarasingham

Work

Author

Reena Kumarasingham

Browse famous quotes and profile details for Reena Kumarasingham. more

You May Also Like

“PERNIKAHAN ADALAH -1- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk beribadah, akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah. -2- Pernikahan adalah akad untuk saling mencintai, akad untuk saling menghormati dan menghargai. -3- Pernikahan adalah akad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling meningkatkan ketakwaan, akad untuk mengokohkan ketaatan kepada Tuhan, akad untuk berjalan pada tuntunan Kenabian. -4- Pernikahan adalah akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasihati, akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat, dalam tawa dan air mata. -5- Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutupi aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan. -6- Pernikahan adalah akad untuk mudah mengakui kesalahan, akad untuk saling meminta maaf, akad untuk saling memaafkan, akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan. -7- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menorehkan luka, akad untuk tidak saling menyakiti badan pasangan. -8- Pernikahan adalah akad untuk mesra dalam perkataan, akad untuk santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk berlaku lembut kepada pasangan, akad untuk memberikan senyum termanis, akad untuk berlaku romantis dan selalu berwajah manis. -9- Pernikahan adalah akad untuk saling mengembangkan potensi diri, akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan, akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk saling membahagiakan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan, akad untuk tidak saling mengkhianati, akad untuk tidak saling meninggalkan, akad untuk tidak saling mendiamkan. -10- Pernikahan adalah akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencari rejeki yang halal dan thayib, akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan, akad untuk berbakti kepada orang tua dan mertua, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, akad untuk membangun peradaban masa depan. -11- Pernikahan, adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan !”

“So they have each other’s essence in the body. It felt like total bliss because they were totally aligned and their spirits and energies were in the same vibrations, in resonance. “It’s a Sacred Union. And we will forever be connected,” she says with a smile.”

“Mary's courage to defy such an unflinching patriarchal societal structure, at the expense of letting go of everything, is inspiring – one that transcends time and culture.”

“...Fools that you are! You believe you hold the Eternal Law of Dharma in your hands, but the truth is you are living in absolute spiritual darkness! You accuse women of being impure because of their monthly bleeding and will not deign to accept them in your presence, but what you do not realise is that while women's blood brings about new life, the blood you shed in the name of religion brings about nothing but death!...”

“Once the caravan reached the Kashmir Valley between the Great Himalayas and the Pir Panjal Range, in the northernmost region of the Indian subcontinent, Jesus continued the journey with a small group of locals until he completed the last leg on his own, guided from one place to another by the local people. Some weeks later, he made it to the Indian Himalayan region where Jesus was greeted by some Buddhist monks and with whom he sojourned for some time. From that location, he then went to live in the city of Rishikesh, in India's northern state of Uttarakhand, spending most of his time meditating in a cave known as Vashishta Gufa, on the banks of the River Ganga. Jesus lived in those lands for many months before he continued traveling to the northeast, until he arrived in the Kingdom of Magadha, in what is presently West-central Bihar. It so happened that it was here, in Magadha, that Jesus met Mari for the first time, the woman better known today as Mary Magdalene...”

“The rise of the Divine Feminine does not have to be at the expense of the Sacred Masculine. It is about the complete respect of the differences that the Sacred Masculine and Divine Feminine bring to a physical and spiritual union.”

“What happened to the Divine Feminine? Why has She apparently disappeared from Judaism, Christianity and Islam? In the Gnostic Gospels, we learn that Mary Magdalene was probably the closest disciple of the Christos, the one whom the Master taught the most arcane esoteric wisdom. She was and is the representation of all wisdom. The male apostles of the Christos demonstrated both their jealousy and respect for the wisdom and position of Mary Magdalene.”