“...waktu sudah membekukan lidahku untuk meratap.” Sadness Book:Perempuan Kembang Jepun Source: Perempuan Kembang Jepun
“Waktu itu semua sudah tidak ada yang bisa kuingat. Karena waktu itu kata-kata sudah seakan tidak berarti lagi. Yang ada di memoriku hanyalahwarna pekat. Kucari warna-waran lain , tidak pernah ada. Bahkan putih pun sudah seperti jelaga.” Sadness Book:Perempuan Kembang Jepun Source: Perempuan Kembang Jepun
“Aku belajar bicara pada hening. Karena sepi sudah akrab denganku. Kematian menciumku, maka merah flamboyan tak cukup terang nyalakan mataku. Padahal denyar belum usai. Kuku kisruh masih mencakar-cakar. "Andai semua makhluk yang bernapas bisa berterima kasih kepada kesalahan," begitu katamu. "Kamu baik, hormat, dan sayang padaku, dari dulu, sekarang, dan semoga selamanya. Aku bisa mati tanpamu," jawabku pada kabut.” Emotional Part Book:Perempuan Kembang Jepun Source: Perempuan Kembang Jepun