Quotessence
Home / Authors / Sindhunata

Sindhunata Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Sindhunata Quotes

“Harapan memang bukanlah optimisme. Dalam harapan ada yang jauh lebih dalam daripada sekadar optimisme. Sulitnya meraba dan menyatakan harapan macam ini akan terasa, bila harapan itu dialami bukan secara individual dan eksistensial tapi secara sosial. Secarasosial, sulitlah orang meromantisasikan harapan. Dalam konteksnya yang sosial, harapan berarti perjuangan, perlawanan dan pergulatan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan. Di sinilah harapan menjadi perjuangan melawan kekuasaan, yang biasanya cenderung menindas dan sewenang-wenang.”

“Insan-insan celeng atau celeng-celeng itu sekarang ada di mana-mana. Malah sekarang, untuk menjadi celeng, mereka tidak perlu lagi datang berguru pada raja celeng. Insan-insan celeng sudah diperanakkan dan berkembang biak dengan sendirinya. Maklum, udara sudah kotor dengan udara celeng. Dan nafsu tinggal diturut, dalam sekejap celelng-celeng sudah diperanakkan. Maka dalam waktu singkat, jumlah mereka meledak dengan amat banyak. Lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat dipenuhi dengan insan-insan celeng. Di lembaga-lembaga itu apa saja bisa dicelengkan. Jabatan diperjualbelikan secara celeng, anggaran dirancang dengan perhitungan celeng, proyek-proyek pembangunan diselewengkan dengan transaksi celeng. Bahkan politik pun diuangkan dengan celeng. Sebenarnya sudah tersedia kata atau istilah untuk para pelaku semacam itu, yakni koruptor dan politikus kotor. Sedang istilah untuk praktik mereka adalah korupsi dan politik uang. Namun rakyat kebanyakan menyebut mereka celeng. Mungkin karena bagi rakyat kebanyakan, sebutan celeng lebih mudah ditangkap, dan lebih menggambarkan kejahatan dan keserakahan mereka daripada istilah koruptor atau politikus kotor. Mungkin juga karena rakyat ingin mengatakan tentang mereka sebagai apa adanya. Koruptor atau politikus kotor itu biar bagaimana masih manusia atau ada manusiawinya. Sedangkan celeng ya celeng, binatang yang memang tidak mengenal harga diri, rasa malu dan tidak mempunyai nurani. Tapi lebih daripada itu semua, sebutan celeng bisa menerangkan apa yang tidak bisa mereka terangkan.”

“Masak Saudara-saudara tidak tahu? Celeng-celeng itu adalah pejabat-pejabat yang melahap uang rakyat. Mereka adalah penguasa yang membuat rakyet melarat. Celeng-celeng itu telah menyebabkan kita sekarat. Sungguh mereka adalah kaum yang laknat. Sudah tidak dikehendaki rakyat, tapi mereka berulah seperti pimpinan yang sah memperoleh mandat. Kejahatan mereka sudah terkuak, tapi mereka malah menjadi makin nekad. Akal busuk mereka sudah tersingkap, tapi mereka malah menjadi mata gelap. Untuk mempertahankan kekuasannya, mereka menggelapkan uang rakyat, Zaman sudah berubah, seharusnya mereka mundur, karena merekalah yang membuat hidup kita susah. Tapi mereka tak mau mundur. Mereka pandai mengulur-ulur, dengan mudahnya janji mereka diundur-undur. Mereka menyeruduk sana, menyeruduk sini, menyusup sana, menyusup sini.”