Quotessence
Home / Quotes / Quote by RF Kuang

Quote by RF Kuang

“Akan tetapi, kemudian Robin berpikir, barangkali, memicu kebencian justru baik. Kebencian mungkin menuntut rasa hormat. Kebencian mungkin memaksa warga Britania untuk menatap mereka tepat di mata, tanpa memandang sebagai objek, melainkan manusia. Kekerasan mengguncang sistem ini, kata Griffin kepadanya. Dan sistem ini tidak bisa selamat dari guncangan.”

Quote by RF Kuang

Author

RF Kuang

Browse famous quotes and profile details for RF Kuang. more

You May Also Like

“Banyak yang berpikir baBanyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“Here is your flaw, Shaitan, Lord of the Dark, Lord of Envy, Lord of Nothing, here is why you fail. It was not about me. It’s never been about me.” It was about a woman, torn and beaten down, cast from her throne and made a puppet. A woman who had crawled when she had to. That woman still fought. It was about a man that love repeatedly forsook. A man who found relevance in a world that others would have let pass them by. A man who remembered stories and who took fool boys under his wing when the smarter move would have been to keep on walking. That man still fought. It was about a woman with a secret, a hope for the future. A woman who had hunted the truth before others could. A woman who had given her live, then had it returned. That woman still fought. It was about a man whose family was taken from him, but who stood tall in his sorrow and protected those he could. It was about a woman who refused to believe that she could not help, could not heal those who had been harmed. It was about a hero who insisted with every breath that he was anything but a hero. It was about a woman who would not bend her back while she was beaten, and who shown with a light for all who watched, including Rand. It was about them all. ~Rand al Thor”

“When we meditate to expand our consciousness, we perceive reality from an evolved perspective. The yogic mindset is able to create the miraculous magic of each moment at all times. Even when doing mundane chores, a yogi is able to tap into the flow of inspiration. Holding unwavering focus, the mind of consciousness is efficient and effective in dealing with every day realities by being. The vast void mind of awareness is aligned to the world of all enlightened beings of the past as in the moment of now- alight as a Lamp.The magic of Now is consciousness.”

“I first came to Hokkaido for two reasons: miso ramen and uni, the island's most famous foods and two items on my short list for Last Supper constituents. The only thing they share in common, besides a home, is the intense fits of joy they deliver: the former made from an unholy mix of pork-bone broth, thick miso paste, and wok-crisped pork belly (with the optional addition of a slab of melting Hokkaido butter), the latter arguably the sexiest food on earth, yolk-orange tongues of raw sea urchin roe with a habit-forming blend of fat and umami, sweetness and brine. Fall for uni at your own peril; like heroin and high-stakes poker, it's an expensive addiction that's tough to kick. But my dead-simple plan- to binge on both and catch the first flight back to Tokyo- has been upended by a steam locomotive and Whole Foods foliage, and suddenly Hokkaido seems much bigger than an urchin and a bowl of soup. No one told me about the rolling farmlands, the Fuji-like volcanoes, the stunning national parks, one stacked on top of the other. Nobody said there would be wine. And cheese. And bread.”