Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“EPISTEMA DUA SUWUNG: Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa III. LITURGI AKHIR — Konsekuensi Niskala di Dua Suwung yang Retak Sesudahnya, Arus waktu berjalan lagi seperti yang telah digariskan— tanpa memperlambat detik Mahakāla, tanpa memberi jeda untuk bayangan kesalahan. Mereka kembali mengenakan ilusi nama Kode genetika, Garis keturunan, Batas diri di Cakra Ajna. Hanya satu yang tidak kembali: Cara menafsirkan diri sebelum titik singularitas itu terjadi. Peristiwa arketipal ini tidak meminta hak untuk disebut penyatuan. Ia cukup puas menjadi residu etarika di tepi kesadaran: siluet energi yang tidak berani mengaku pernah ada, tapi juga menolak untuk sepenuhnya dilenyapkan. Di jagat niskala, kalau memang ada, peristiwa ini hanyalah efek kecil cermin pradhana: retak nyaris tak terlihat yang membuat prinsip kosmik membengkok sedikit, sekadar cukup untuk membuat satu simpul energi tidak lagi lurus tatkala memandang asal usul-nya. Tidak ada ganjaran karma. Tidak ada penebusan. Tidak ada penghakiman. Hanya sebuah konsekuensi absolut: bahwa setelah dua suwung saling menyentuh, keduanya tak lagi murni hampa. Masing-masing menyimpan jejak bayangan. Cidra suwung yang tak dapat kembali ke keadaan tanpa energi. Maka liturgi yang tersisa: sesuatu telah terjadi tanpa izin hukum alam, tanpa restu moral siapa pun—dan semesta tetap memilih bungkam. Dalam dua suwung yang retak, tinggal satu sabda: yang tak diucapkan, tak ditulis, tak meminta maaf. Aku mengenali kegelapanku. Ia menetap. Tidak bergerak. Tidak pergi. Itu saja. Dan dari sana, hidup berjalan terus— lebih sunyi, lebih berat, lebih jujur, tanpa perlu kata-kata untuk menutupinya. Desember 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“LAKSAMANA PERKASA DI BAWAH TINTA WAKTU (Reinterpretasi dari Hikayat Hang Tuah) I. Muara dan Takdir yang Terukir Selat Malaka, denyut nadi dunia, membasuh pusara takdir. Bukan sekadar pohon, hikayat tegak dari akar Berbintang Tujuh, Berkat Sendayang—izin langit dan azimat pelaut—pelepah kelapa, menjadi layar bahtera para perantau dari hulu sungai ke kuala. Naskah lama, kitab undang-undang laut, lama tersaput debu di gudang aksara. Di tangan para pandai besi yang tak hanya menempa badik, keris, dan kelewang, mereka merajah rembulan sebagai panji, matahari sebagai sumpah janji setia. Di mana pernah berdiri pondok nelayan, gubuk reyot penuh cahaya rembulan, konon dari rahimnya terlahir Laksamana Agung yang menandingi kedigdayaan Patih Gajah Mada. Ah, betapa payah bagi lidah patik untuk mengukir riwayat itu sekali lagi. II. Pelayaran Tujuh Angin dan Dilema Keadilan Laut, mata air peradaban yang tak pernah terpejam, kini merangkai epik hikayat itu. Sang Bentara Gagah, bukan menunggang gajah bertelinga lebar, melainkan Naga Sembilan, Mengayun langkah dari puncak Gunung Ledang, menembus kabut Awan Pualam. Mengayuh armada melintasi Pulau Pinang hingga Tumasik Singapura yang telah bersalin nama. Ia mendarat di Pantai Barat Semenanjung, di bawah Musim Angin Barat yang mematikan. Saat pintu langit terbuka, ia dan empat sahabatnya melangkah tanpa terhalang. Setiap langkahnya adalah tinta waktu yang mencatat takdir negeri di atas lembaran daun lontar. Ia menyaksikan betapa, lima pemuda kampung sanggup menaklukkan sekawanan perompak. Namun di antara kemenangan itu, ia merenung dengan getir di hati yang berkarat: “Negeri ini berlimpah pahlawan dan harta karun tujuh muara yang tiada ternilai, tapi mengapa rakyat jelata masih memanggul beban kemiskinan yang tiada terperi?” III. Prasasti Kebijaksanaan dan Hutan Belantara Moral Kapal perompak itu karam, bukan pada batu biasa, tapi pada batu bersurat. Ia menjelma prasasti takdir, tertanam di dasar samudra. Ikatan mati yang bukan simpul, tapi sayap garuda tunggal yang telah gugur. Batu hitam bukan bersanding, tapi batu meteorit yang jatuh di tanah Pelinggam. Kekuatan pedang tak sebatas gerinda, tapi tuah keris tiga warisan yang bernyawa. Ia tak lagi terbang, tapi arwah Nusantara terus mengitari delapan penjuru angin, demi menaklukkan seribu pulau jajahan, menyatukan lima suku bangsa. Namun jantungnya kini tertambat pada hasrat untuk menjadi pohon kokoh kehidupan, berdaun rimbun Cendana, berdahan sekuat Jati Melaka, berbuah Kearifan Raja-raja. Betapa ia lupa, negerinya adalah rimbalaya yang sunyi di bawah bulan. Di mana serigala kekuasaan mencuri, singa buas menindas kawanan yang lemah, dan gajah-gajah tuli bertahta di dalam istana yang tak sanggup mendengar. IV. Epilog dan Rumah Keabadian Kisah ini tak mungkin tuntas, sebab jemari dingin terasa ingin mencekik leher sendiri, sebagaimana senja berdarah dan kabut likat di Bukit St. Paul yang menyelimuti, saat Hang Tuah mengakhiri riwayat Hang Jebat dengan satu tusukan Keris Taming Sari. Keris itu bukan menancap di dada, tapi berumah di pusaran batin sahabat sejati. Biarkan mata kosmik yang nyalang itu menemukan halaman terakhir hikayat, Menyelubungi jasad yang terbujur dengan selimut leluhur—kain tenun songket emas, dan mengirim ruhnya menuju rumah keabadian di puncak Gunung Ledang. Barangkali dengan cara seperti ini, kita akan terhindar dari tikaman kemalangan sejarah. Barangkali dengan cara serupa itulah, kita, para pembaca yang sunyi ini dapat merangkul kebenaran sejati yang telah lama tenggelam di Selat Malaka. Jakarta, Januari 2014 (rekonstruksi ulang)”

“One... misconception is the idea that England is now mostly concreted over. Coupled to this is the idea that the onward march of bricks and mortar is the main cause of declining species and habitats. Neither assertion is true. Just 8.8 per cent of England is built on; 73 per cent is farmland, and 10 per cent is forestry. The biggest drivers of biodiversity loss in this country are modern agriculture, forestry and shooting. ...the greatest threat to the countryside comes from within it.”

“Want niet alleen God is voor de wereld verloren gegaan, maar ook de duivel. Zoals het kwaad op verwensbeelden wordt geschoven, zo wordt het goede geschoven op wensbeelden die men vereert omdat ze datgene doen wat men zelf ondoenlijk vindt. Men laat andere mensen zwoegen terwijl men vanaf een zitplaats toekijkt, dat is de sport; men laat mensen de eenzijdigste overdrijvingen te berde brengen, dat is het idealisme; men schudt het kwaad van zich af en degenen die ermee worden bespat, dat zijn de verwensbeelden. Zo krijgt alles op de wereld zijn plaats en zijn ordening, maar deze techniek van heiligenverering en zondebokkenmesterij door afschuiven is niet ongevaarlijk, want ze vervult de wereld met de spanningen van alle onuitgevochten innerlijke conflicten. Men slaat elkaar dood of verbroedert zich zonder ooit zeker te weten of men dat in volle ernst doet, omdat men immers een deel van zijn wezen buiten zichzelf heeft, en alle gebeurtenissen schijnen zich half vóór of achter de werkelijkheid te voltrekken, als een spiegelgevecht van de haat en de liefde. Het oude geloof in demonen, dat voor al het goede en het slechte waarmee men te maken kreeg de hemelse of helse geesten aansprakelijk stelde, werkte veel beter, accurater en netter, en men kan slechts hopen dat wij daar met de voortschrijdende ontwikkeling van de psychotechniek weer naar terug zullen keren.”