Quotessence
Home / Quotes / Quote by Hilari Bell

Quote by Hilari Bell

Author

Hilari Bell
Hilari Bell

Hilari Bell, born in 1958, is an accomplished author known for her diverse works that delve into social, cultural, and personal identity issues. Her distinctive literary style and profound insights have earned her recognition and awards. more

You May Also Like

“Bicara soal kekuatan Tarjdo, tidak gampang kalau rakyatmu miskin. Rakyatmu harus punya makan yang cukup dulu, punya pakaian, dan yang paling penting bebas buta huruf. Ini yang membedakan manusia dengan binatang. Sebab, kalau cuma makan, binatang juga bisa makan. Lantas, kalau cuma pakaian, binatang juga punya bulu. Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban.”

“Kematangan nalar adalah pusara terakhir bagi segala kegaiban dan absurditas. Di sanalah kita membunuh ilusi, dan di sanalah pula kita membangun kemanusiaan. Peradaban yang utuh bukan dibangun atas dasar iman yang absolut, melainkan atas dasar nalar yang terbuka. Ia tidak membutuhkan dominasi, tetapi partisipasi. Ia tidak menindas perbedaan, tetapi merayakannya dalam harmoni.”

“Sesungguhnya bangsa Arab ialah para penyebar Islam. Mereka telah keluar dari pedalaman padang pasir dengan persiapan yang kuat dan berterusan, terus melebar hingga meluas ke pelbagai penjuru, kemudian Allah SWT telah menetapkan kemenangan kepada orang-orang berikan, kebebasan kepada orang-orang lemah dan kehinaan kepada orang-orang zalim dan sombong. Mereka meluncur dari padang pasir bersama Rasulullah SAW selama seperempat abad, di samalah Rasulullah SAW telah mengisi pelajaran langit yang turun bersama wahyu, membekali mereka dengan pelbagai kekuatan pemikiran dan emosional sehingga mengangkat taraf kehidupan mereka secara material dan mental; menjadikan mereka sebagai pembawa misi, dan pencipta peradaban; memiliki kehormatan serta pemikiran yang benar, hati yang bersih dan jiwa yang peka mengatasi masyarakat Parsi dan Rom.”

“Kebudayaan Melayu berdasarkan nilai-nilai yang beradab dan bersifat kemajuan. Keburukan-keburukan yang terjadi adalah penyelewengan semata-mata yang terdapat di seluruh masyarakat dunia. Umpamanya, jika terdapat seorang Melayu malas, ini tidak bererti kebudayaan Melayu mengutamakan unsur malas. Pada hakikatnya ialah kebudayaan Melayu menganjurkan unsur rajin. Demikian juga jika ada ebebrapa orang Melayu yang terganggu fikirannya, mengamuk, membunuh beberapa orang, mata gelap, ini tidak bererti bahawa sifat mengamuk itu merupakan bahagian utama (basic part) daripada watak Melayu.”