Quotessence
Home / Topics / Agama Quotes

Agama Quotes

Browse 43 quotes about Agama.

Agama Quotes

“Kita perlu faham bahawa hak manusia perlu diraikan dengan syarat mengikuti panduan syarak. Jika semua hak manusia perlu raikan, maka akan lahirlah manusia yang hidup tanpa undang-undang. Semuanya bebas atas dasar liberal. Nak jadi lesbian? Nak tukar jantina? Semuanya boleh. Hak manusia yang berlandaskan nafsu ini menjauhi fitrah Muslim yang sebenar. Jangan jadikan hak asasi manusia sebagai alasan untuk membenarkan tindakan. Kita sering kali fikir tentang hak manusia, tapi kita lupa bahawa kita adalah hamba-Nya, dan kita ini hak milik Allah. Bagaimana dengan hak kita sebagai hamba?”

“Kita perlu faham bahawa hak manusia perlu diraikan dengan syarat mengikuti panduan syarak. Jika semua hal manusia perlu raikan, maka akan lahirlah manusia yang hidup tanpa undang-undang. Semuanya bebas atas dasar liberal. Nak jadi lesbian? Nak tukar jantina? Semuanya boleh. Hak manusia yang berlandaskan nafsu ini menjauhi fitrah Muslim yang sebenar. Jangan jadikan hak asasi manusia sebagai alasan untuk membenarkan tindakan. Kita sering kali fikir tentang hak manusia, tapi kita lupa bahawa kita adalah hamba-Nya, dan kita ini hak milik Allah. Bagaimana dengan hak kita sebagai hamba?”

“Aku tidak percaya bentuk Tuhan apa pun, kecuali yang sesuai dengan idealku sendiri. Aku pun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib. Juga tak percaya kita juga. Dewasa ini aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi kita tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri. Itulah aku kira mengapa kita harus belajar sejarah dan dalam hal ini mengapa aku pesimis.”

“Agama, sebaliknya tidak mengklaim untuk jadi petunjuk praktis pengubah dunia. Semangat agama yang paling dasar menimbang hidup sebagai yang masih terdiri dari misteri, memang ada orang agama yang seperti kaum Marxis, menyombong bahwa “segala hal sudah ada jawabnya pada kami”; tapi pernyataan itu menantang makna doa—dan mematikan ruh religius itu sendiri. Sebab dalam doa, kita tahu, kita hanya debu”

“Sesungguhnya bangsa Arab ialah para penyebar Islam. Mereka telah keluar dari pedalaman padang pasir dengan persiapan yang kuat dan berterusan, terus melebar hingga meluas ke pelbagai penjuru, kemudian Allah SWT telah menetapkan kemenangan kepada orang-orang berikan, kebebasan kepada orang-orang lemah dan kehinaan kepada orang-orang zalim dan sombong. Mereka meluncur dari padang pasir bersama Rasulullah SAW selama seperempat abad, di samalah Rasulullah SAW telah mengisi pelajaran langit yang turun bersama wahyu, membekali mereka dengan pelbagai kekuatan pemikiran dan emosional sehingga mengangkat taraf kehidupan mereka secara material dan mental; menjadikan mereka sebagai pembawa misi, dan pencipta peradaban; memiliki kehormatan serta pemikiran yang benar, hati yang bersih dan jiwa yang peka mengatasi masyarakat Parsi dan Rom.”

“Manusia adalah spesies aneh: cerdas, tetapi religius; logis, tetapi mitologis; ilmiah, tetapi mistis. Kita menyembah Tuhan dengan cara yang sama kita menyembah selebritas, teknologi, dan ideologi. Mungkin agama adalah kelemahan evolusi yang kita romantisasi sebagai kebijaksanaan. Atau sebaliknya, adaptasi yang membuat kita selamat sejauh ini, meski dengan harga darah.”

“Kita adalah spesies yang sedang mencari makna dalam semesta yang tak bermakna. Kita menciptakan kitab suci, hukum moral, dan impian utopis demi bertahan hidup dalam kekacauan kosmis ini. Tetapi kita juga harus cukup rendah hati untuk mengakui: bahwa semua itu tidak lebih dari sandi-sandi simbolik untuk mengatasi absurditas keberadaan.”

“Histori perbudakan islam menunjukkan ironi mendalam. Islam tidak menghancurkan perbudakan, tetapi mengislamkannya. Budak jadi properti, alat ritual, bahkan komoditas seksual. Pasar budak, harem, dan pasukan budak berkuasa adalah bagian integral dunia Islam. Abolisi datang bukan dari fiqh atau qur’an, tetapi dari tekanan barat modern. Jika kita jujur, histori perbudakan dalam Islam adalah bukti paling telanjang bahwa agama ini tidak steril dari dosa sejarah yang sama dengan peradaban lain. Bedanya, dosa ini dikuduskan, dipoles dengan bahasa “syariat”, dan diawetkan berabad-abad.”

“kita menjadi kabilah yang diburu dan dijadikan penjahat seperti kaum Musa as oleh agama yang kita pegang dan junjung dengan percaya dijadikan syariat dan jalan kebenaran; cahaya dan penyuluh sedang mereka dengan keangkuhan dan kesombongan Firaun menjulang pedang tajam kebebasan serta tombak kenihilan untuk merobek agama dan kebenaran Tuhan yang kita miliki atas nama hak asasi manusia, kesamarataan dan kebebasan berfikir maka al-Quran mereka jadikan buku dari tangan manusia yang boleh ditafsir akal sesuka hati dan dimaknakan semahunya suara-suara mereka lagi mengatakan bahawa nabi-nabi hanya mitos yang dicipta oleh agama - maksum itu hanya dongeng dan Islam adalah nama yang diberikan warna penuh kelabu untuk dilihat dengan penuh sinis dan prasangka gelap. (Perjalanan 2)”

“Saya sendiri orang agamawan, tapi yang terpenting sebenarnya adalah iman. Iman itu inklusif, sedang agama harus dan selayaknya ekslusif.... Betul, banyak sekali manusia beragama, tapi tidak beriman. Sedangkan tidak sedikit yang tidak beragama, "atheis dalam praksisnya", tetapi beriman: bersikap baik pada sesama, suka menolong yang lemah dlsb. Memang, idealnya, dua-duanya, beragama sekaligus beriman. Tapi hal ini membutuhkan pergulatan terus-menerus seumur hidup. Hal ini perlu sekali disadari karena menyangkut pandangan kita terhadap sesama manusia dan alam, ilmu pengetahuan dan yang lebih sempit lagi, sains, dan teknologi itu sendiri”