Quotessence
Home / Topics / Doa Quotes

Doa Quotes

Browse 43 quotes about Doa.

Doa Quotes

“tejo duduk di bawah langit bergumam lirih tentang tumini Sayangku, Jangan biarkan cinta kita berhenti pada kata-kata Sekarang kita jaga untuk kita wujudkan kelak Supaya kamu bisa membangunkan tidurku dengan ciumanmu Menggantikan sinar matahari yang membunuh mataku Sayangku, Kalau hari ini aku menangis Kamu hanya bisa mendengar isak ku Membayangkan sedih dalam hatiku Namun kamu tidak mengijinkan kakimu mendekati dan memelukku damai Bahkan larimu masih tertahan Namun sayangku, Suatu hari nanti, setiap saat kamu bisa mendekapku, meluapkan rasa hatimu hingga bahkan ujung hidung kita saling beradu menghembuskan nafas yang menyentuh pori-pori Dan kita menjadi tidak terpisahkan Sayangku, Jangan meresahkan hari nanti akan seperti apa Sebab saat kuucapkan doa ini, Allah sedang menuliskan ijin-Nya buat kita Dan menunggu balasan Amin dari kita Kekasihku, Keluarlah sebentar Pandanglah rembulan di langit malam ini Dan kamu harus tau Redupnya sinar bulan tampak menghilang karena aku curi dan aku simpan buatmu kelak Bahwa ketika kamu sedang gelisah Sinar rembulan itu aku akan tembuskan ke hatimu _9277464 _wasiman waz”

“Layaknya pertemuan, Tuhan selalu bertanggung jawab terhadap perpisahan Karena itulah Dia menciptakan rindu dan do’a untuk melangitkan nama-nama Kita tak punya kuasa memaku waktu, namun bisa memajang kenangan dalam gambar-gambar Menyulap runtutan cerita menjadi rentetan aksara Tidak ada kisah yang sempurna, karena pertemuan dicipta agar manusia bisa memaknai Bahwa di Semesta yang luas ini masing-masing kita hanya potogan-potongan puzle yang membutuhkan potongan-potongan jiwa lain untuk melengkapi Sedih, Bahagia, Canda, Tawa, Susah, senang Begitulah cara semesta bekerja dalam meramu setiap kisah anak manusia”

“Agama, sebaliknya tidak mengklaim untuk jadi petunjuk praktis pengubah dunia. Semangat agama yang paling dasar menimbang hidup sebagai yang masih terdiri dari misteri, memang ada orang agama yang seperti kaum Marxis, menyombong bahwa “segala hal sudah ada jawabnya pada kami”; tapi pernyataan itu menantang makna doa—dan mematikan ruh religius itu sendiri. Sebab dalam doa, kita tahu, kita hanya debu”

“Haruskah kita melangkah kan kaki di antara nisan yang berbaris. Dan badai musim ini, akan menjadi sesuatu yang janggal. Bayang kan kita lebih tinggi dari gagak yang melambung.. Dan bernapas angkuh layaknya firaun... Tragisnya kita jatuh melesat kebawah bagaikan anak panah. Suara ini tetap bergema!!! . . . .Kita adalah Hati.... Yang tak pernah di beli atau pun tergadaikan oleh dunia. Kita adalah Hati... Yang meredam manis ucapan.... Kita adalah Hati... Yang tak sebanding dengan bangkai munafik... Kita adalah hati..... Dan masa depan mengalir di antara tulang ini Dan kita adalah Hati.. Yang selamanya berdoa . .~andra dobing”

“Seperti pagi yang senantiasa menyajikan cahaya untuk langit Begitulah rasaku terbit Kicau-kicau permai Alunan-alunan rindu di setiap musim yang menyebutmu, aku ada Berusaha menyatukan pelangi yang diderai hujan kemaren sore Mungkin kisah kita masih puisi-puisi lugu yang mengendap di punggung-punggung kertas Syair-syair bisu yang tercipta dari jemari bertaut dengan kecemasan Ia belum memiliki panggung untuk menunjukkan jati diri Hanya gigil hati tak bernama yang dipeluk doa-doa Apakah kita bertemu untuk tinggal? Sebab tamu tidak pernah menetap Hanya datang sesaat, mengetuk pintu hatimu hanya untuk kepentingannya belaka Waktu tidak pernah memanipulasi keadaan Juli dimusim hujan kala itu Semua adalah keadaan yang telah direkam semesta Bahkan jauh sebelum kita ada Aku mungkin adalah cerita yang tak pernah kau impikan di diarymu sebelumnya Dan kau adalah bahasa yang acap kusebut dalam doa Yang belum mampu aku defenisikan untuk sebuah nama”

“Mereka mengetik doa panjang dengan kata-kata indah, berharap mendapat simpati dari orang-orang yang bahkan tidak peduli. Mereka mengunggah permohonan kepada Tuhan, tapi siapa sebenarnya yang mereka tuju? Tuhan, atau algoritma? Mereka ingin malaikat mencatat doa mereka, tapi siapa yang mereka harapkan membaca? Langit, atau followers mereka? Dengar baik-baik: malaikat tidak akan repot screenshot doamu. Tuhan tidak butuh tagar agar mendengar permintaanmu. Jika kau benar-benar ingin berdoa, lakukan dalam hening, dalam keikhlasan, bukan sebagai tontonan. Karena jika doamu hanya untuk dilihat manusia, maka selamat—kau sudah mendapatkan yang kau cari: perhatian mereka. Tapi jangan berharap ada balasan dari langit untuk sesuatu yang niatnya saja sudah bengkok sejak awal.”