Quotessence
Home / Topics / Gelap Quotes

Gelap Quotes

Browse 26 quotes about Gelap.

Gelap Quotes

“JENAWI II. Kitab Lengkara Tetapi nama siapa nanti yang akan tertera sempurna                                                                     dalam kitab lengkara, namamukah itu? Ia yang merasa                                                                      menemu hakekat kebenaran pada ihwal kehidupan                                                                    yang konon pernah dijanjikan oleh para empu. Selain                                                                   kilas wajah sebalik topeng atau barangkali sebuah persona                                                                        kepada siapa engkau mempersembahkan setiap tetes darah                                                       yang dengan susah-payah engkau titikkan lewat bujuk rayu                                                         atau keras hardikanmu? Sekali badik ditarik pantang kembali                                                                      ke dalam sarung sebelum ia puas menikam. Tapi demi satu cintaku                                                                                                                  Tusuklah daku, Sayangku. Tetaklah tubuhku.                                                                                       Tebah - dedahlah dadaku dengan kelebat amarahmu.                                                                   Tapi jangan engkau abaikan aku. Jangan kautenung aku                                                              dengan kilau tatap matamu. Jerau jantung hatimu                                                                         yang setiap saat ingin mengejar – mencari mati                                                                                   agar esok aku bisa berharap terlahir kembali                                                                                   dalam kekal ingatanmu                                                                                                                                                                             yang sungguh kutahu                                                                                                                         betapa pongah itu. Okober 2015”

“Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu. Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang, kala lelah kukepak sayap. Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada. Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati. Berlebihan jika kuminta semua itu? Cemasku… Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa? Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku? Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”

“Haruskah kita melangkah kan kaki di antara nisan yang berbaris. Dan badai musim ini, akan menjadi sesuatu yang janggal. Bayang kan kita lebih tinggi dari gagak yang melambung.. Dan bernapas angkuh layaknya firaun... Tragisnya kita jatuh melesat kebawah bagaikan anak panah. Suara ini tetap bergema!!! . . . .Kita adalah Hati.... Yang tak pernah di beli atau pun tergadaikan oleh dunia. Kita adalah Hati... Yang meredam manis ucapan.... Kita adalah Hati... Yang tak sebanding dengan bangkai munafik... Kita adalah hati..... Dan masa depan mengalir di antara tulang ini Dan kita adalah Hati.. Yang selamanya berdoa . .~andra dobing”

“Adarusa Hapaheman yang merubuhkan pohon itu adalah kerabat dekatmu Batu yang dulu kaupungut dari sungai dan membawanya ke tepi Jejak yang ia tinggalkan di atas tanah tegalan yang kekeringan Dan janji yang tak terbeli. Istrinya adalah sekuntum mawar yang layu sebelum waktunya Sandyakala yang mendadak tua setelah melahirkan 3 ekor anak burung; Seekor burung gagak Seekor burung prenjak Dan seekor merpati yang pemalu namun baik hati. Mereka tak pernah terbang terlalu jauh dari sarang itu. Sarang yang bukan miliknya Rumah yang tak pernah ia dirikan untuk keluarga. Karena ia hanyalah seekor adarusa. Tak ada yang dimilikinya sendiri kecuali hutang-hutang masa lalu; Tanah yang tak pernah ia cangkul. Benih yang tak pernah ia tanam. Adakah kemarahan semacam itu akan terpendam selamanya? Seekor pejantan lancung yang hanya bisa datang saat ia lapar Dan lalu pergi hanya untuk memenuhi egonya sendiri. Ia telah menjadi beban bagi masa silam Dan batu yang kian hari kian memberati Sayap-sayap kelam yang tak mampu terbang lagi. Telah tua ia sekarang Masih dengan tabiat yang sama Watak yang sepertinya hendak ia bawa mati Langit sekarat menunggu waktu Segala apa yang ia punya, hanyalah luka Bukan nama atau harta untuk diwariskan. Takdir dan nasib buruk serupa suara guntur di kejauhan. Ia adalah hapaheman yang merubuhkan pohon Tempat di mana sarang itu berada. Sarang yang ditinggali istri dan tiga anak-anaknya. November 2025”

“Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)”

“Mendedah Realitas // Versi Ironis–Tragis–Nihilistik Tidak ada yang benar-benar melarang kita mendedah realitas. Yang melarang hanyalah rasa takut yang tak nyata yang kita bungkus rapi seolah kesunyian punya moralitasnya sendiri. Ketika kita membukanya, kita menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan dari rahasia apa pun— bukan makna, tapi ketiadaan makna yang berbaring seperti jasad yang sudah dingin, menunggu siapa yang berani menyentuhnya. Nietzsche berbisik dari suatu tempat yang tak bertuhan: “Realitas bukan sesuatu yang kau temukan, tapi sesuatu yang kau paksa untuk bernapas.” Namun ia sendiri pun terperosok ke dalam jurang kata-kata yang ia ciptakan untuk membebaskan diri. Agustinus menjawab dengan getir, seperti seseorang yang terlalu lama menyesali masa mudanya: “Yang nyata hanyalah yang ditopang iman keyakinan.” Tapi ia pun gemetar ketika malam terlalu sunyi dan doanya memantul kembali tanpa jawaban. Zen Buddhis tertawa pelan, bukan karena ia menemukan pencerahan, tapi karena ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu selalu kalah oleh kekosongan. “Realitas hanyalah bayangan pikiran.” Namun pikiran— adalah tempat pertama di mana semua luka tumbuh. Dan kita? Kita hanya duduk di antara mereka seperti anak terlambat belajar yang tak tahu harus mempercayai siapa: dia yang membunuh Tuhan, dia yang memeluk Tuhan, atau dia yang mengatakan tak ada apa-apa sejak awal mula. Semakin dalam kita membuka realitas, semakin terasa bahwa yang tersingkap bukan cahaya, bukan kebenaran, tetapi lapisan-lapisan ironi tragis yang menertawakan keinginan kita sendiri untuk mengerti sesuatu yang bahkan tidak memiliki pusat gravitasi. Barangkali realitas adalah semacam pembusukan yang berlangsung teramat lambat— kita mengendus aromanya, berpura-pura itu adalah parfum filsafat. Atau mungkin ia hanya cermin yang memantulkan wajah kita yang lelah, yang pucat oleh harapan, yang terjerat antara ingin percaya dan ingin berhenti peduli sama sekali. Zen berkata: lepaskan. Nietzsche berkata: tumbuhkan kehendak. Agustinus berkata: bertobatlah. Skeptisisme modern berkata: klik refresh dan lanjutkan hidup. Namun malam tetap datang dengan kesenyapan yang tak bisa kita tawar. Ia membongkar pikiran kita tanpa belas kasihan, meninggalkan sisa diri yang tak lagi padat, tak lagi utuh, sekadar debu yang tahu bahwa keberadaannya pun hanya sementara. Pada akhirnya, mendedah realitas bukan tentang menemukan apa atau siapa. Ini adalah latihan kehilangan: kehilangan jawaban, kehilangan harapan, kehilangan tumpuan yang selama ini kita yakini sebagai fondasi. Dan dari kehilangan itu muncul sejenis ketenangan muram— seperti lampu jalan yang terus menyala di jalan terpencil, meski tak ada seorang pun yang benar-benar membutuhkannya. November 2025”

“Saya mengetahui malam selalu datang dengan gelap dan ketenangan, sayapun juga mengetahui adanya cahaya dan kebisingan disaat pagi hingga senja dan akhirnya kembali datang malam ditemani tiupan angin yang sunyi. Saat itu saya belajar tentang keseimbangan hidup. Belajar tentang banyak hal yang terjadi diantara kedua hal tersebut. Sunyi dan kebisingan, keduanya selalu mendampingi walau mereka berada hampir selalu berjauhan. Senja tahu tentang kepenatan dan rasa bosan yang diciptakan oleh kebisingan yang memuakan, senjapun juga sempat menyaksikan kebahagian yang diciptakan oleh sunyi walau sebentar tetapi itu sangat indah karna senja berwujud cantik selalu berwarna jingga berkilau emas diiringi sinari matahari yang tenggelam untuk tertidur.”

“Bagi saya, berdosa bukanlah inti rasa tragis. Intinya adalah kesadaran tentang 'tepi'. Tepi bukanlah batas. Tepi mengandung sesuatu yang sepi, juga menunjukkan keadaan yang genting sebab siapapun akan sendirian ketika ada pelbagai sisi yang dihadapi, ketika seorang tak berada di satu pusat yang mantap. Bukan saja karena terang dan gelap ada dimana mana, tapi juga karena kedua duanya mengandung bahaya”

“Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025”

“Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025”

“PANGKUR : (Fragmentarium 20 Tikaman Sunyi) 1 Petir sumbang. Langit menegang, pelat baja dipalu dari sisi terdalamnya. 2 Hujan turun cairan asam: mengikis mata wajah tinggal topeng tanpa riwayat. 3 Dunia: arca yang disembah oleh bayang-bayang sendiri. Kesadaran: batu yang tak lagi mengingat wujudnya. 4 Musim menggeram. Setiap butir air menyimpan dendam yang tidak meminta ampun. 5 Manusia menelanjangi nama sendiri. Makian. Ancaman. Pisau tersembunyi di sela sendi. 6 Belati membelah tanah. Anak Adam melukail tidak membunuh, hanya memastikan yang lain masih berdarah. 7 Kemanusiaan menjadi kabut: ruh melayang, mencari raga yang hilang. 8 Abu menyelimuti wajah. Rambut kaku berdiri kawat meregang luka. 9 Nyeri merayap ke dasar tengkorak, seperti kawanan semut tersesat di rongga telinga. 10 Genderang perang bertalu. Langit menganga— menelan semua gerhana. 11 Di tanah ini, mimpi mati terlebih dulu. Merpati jatuh tertembak peluru gagal mengirim pesan. 12 Hujan tidak bernyanyi. Cuaca patah. Waktu terbelah. Bumi mengerut menjadi bangkai di paruh gagak. 13 Dubuk mencabik serpihan nama. Sejarah runtuh sebelum sempat ditulis. 14 Duri menajamkan bulu mata. Setiap helai rambut menghitung hari kematian dengan ketelitian seorang algojo. 15 Isak terperangkap, ruang tak mengenal waktu. Jerit menjadi kubur, cat mengelupas di dinding bunker. 16 Manusia lelah mencari nama. Nama lelah mencari manusia. 17 Peradaban tenggelam tanpa suara. Jelaga menggambar kerangka kota yang lupa asal-usulnya. 18 Siluet hantu melintas sunyi dengan mata menyala, bukan karena amarah— hanya tak punya tempat untuk kembali. 19 Mawar diinjak tanpa ritual. Tanpa pamit. Tanpa air mata. 20 Sunyi pecah. Waktu retak. Detak berhenti lalu diam, seperti kerikil kehilangan gravitasi. Desember 2025”