“Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu. Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang, kala lelah kukepak sayap. Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada. Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati. Berlebihan jika kuminta semua itu? Cemasku… Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa? Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku? Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?” GelapPulangRumahSayapTanahUdaraLilinNapasTerbang Author:Devania Annesya
“Aku adalah bunga di pinggir jalan, berbalut asap knalpot, dilindas mobil, diinjak pejalan kaki, hitam, dekil, tidak berharga. Sampai ketika engkau memindahkanku ke pot yang indah, bermandikan air cucian beras, tanah yang subur, dan senyumanmu saat sedang memberiku pupuk.” BungaTanahSenyumanAir BerasKnalpotPinggir Jalan Author:Achmad Aditya Avery
“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pengeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.” AirRajaPangeranTanahBupatiNasi Book:Gadis Pantai Source: Gadis Pantai
“Mustahil pembajak sawah tgnnya tdk terkotori tanah, sama tdk ada seorg jendral di manapun tgnnya bersih dr bekas lumuran darah” DarahTanahBersihJendralKotor Book:Sarvatraesa: Sang Petualang Source: Sarvatraesa: Sang Petualang