Quotessence
Home / Authors / Achmad Aditya Avery

Achmad Aditya Avery Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Achmad Aditya Avery Quotes

“Dulu sekali, mungkin kita pernah berada di satu jalan, seiring berjalannya waktu kita sadar. Kita ini buta, buta akan takdir kita, pada akhirnya kita kehilangan arah. Aku meraba tanganmu yang tak juga tersentuh, entah di mana, ‘tak kutemukan, sehingga mungkin kusimpulkan kamu berjalan di jalanmu, aku pun demikian. Mungkin sebuah persimpangan telah memisahkan tapi kelak tidak ada manusia yang tahu. Dua jalan yang terpisah ini di mana akan bermuara. Aku pun tidak tahu akan sampai di sana atau lenyap di tengah jalan.”

“Rayakanlah setiap kebaikan yang dilakukan dirimu sendiri, tidakkah kamu mengerti seberapa keras kamu menuntutnya untuk melakukan yang terbaik. Sebuah es krim dengan butiran cokelat yang kamu nikmati dengan dirimu sendiri bukankah itu indah? Jika atasan bisa memberikan hadiah kepada bawahan, jika sahabat bisa memberikan hadiah kepada sahabat, kenapa diri sendiri yang setiap detik bersamamu tidak kamu hargai?”

“Kita telah berjanji untuk tidak terlalu bertingkah mesra, tidak pula berjanji untuk mengatakan pada dunia bahwa kita adalah sahabat, tidak! Tidak perlu dan tidak berguna. Kita hanya perlu mengulurkan tangan, merangkul, menangis, dan berjuang bersama ketika salah satu dari kita menghadapi kekalahan, duka, dan kesulitan. Serta tertawa, menyiapkan hidangan kemenangan, saling memberi selamat, ketika salah satu dari kita berhasil melakukan sebuah kemenangan sekecil apa pun itu.”

“Persahabatanku dengan kata-kata tidak jauh beda dari persahabatan sang pelukis dengan lukisannya, sang pelari dengan kakinya, sang ilmuwan dengan bukunya, sang penerjemah dengan kamusnya, sang dokter dengan alat-alat kedokterannya, sang akuntan dengan kalkulatornya, sang pemimpi dengan impiannya, aktivis dengan pemikiran serta orasinya, sang Edison dengan lampunya, sang pemimpin dengan kebijaksanaannya, sang penyusun skripsi dengan jurnal serta analisisnya, sang koki dengan masakannya, sang putri tidur dengan gulingnya.”

“Bagai robot rongsok, rusak, dan usang, duduk di sudut ruangan. Menunduk, menjerit, aliran listrik menyelimuti tubuh, kejang-kejang, lemas. Masa depan yang indah, tiba-tiba redup, peran robot usang telah digantikan dengan si perak yang sombong. Mata tembaga telah berakhir, mata dengan cahaya kebiruan menguasai. Kelak, si perak pun akan diganti, dengan yang lebih mengkilap lagi, atau sebaliknya kemunduran teknologi yang terjadi, ketika layar bercahaya kembali menjadi batu. Orang-orang yang tidak siap akan terus mengelus-elus batu kotak tersebut, sampai jari mereka memerah dan mengeluarkan asap.”