Quotessence
Home / Topics / Kenangan Quotes

Kenangan Quotes

Browse 46 quotes about Kenangan.

Kenangan Quotes

“...ia lalu mengakhiri pujiannya ke pada mereka semua, bahwa mereka sebaiknya meninggalkan Macondo, bahwa mereka telah melupakan semua yang diajarkan pada mereka tentang dunia dan hati manusia, bahwa mereka telah mengentuti Horatio dan bahwa ke mana saja mereka akan pergi harus selalu mengingat bahwa masa lalu itu adalah sebuah omong kosong, bahwa kenangan tidak akan kembali lagi, bahwa tiap musim gugur yang telah lalu tidak akan bisa dikejar dan bahwa cinta paling liar dan paling ngotot itu pada akhirnya hanyalah kebenaran yang sekejap, tidak berlangsung lama.”

“Hujani cintaku hari ini Hujan menawarkan gerimis dan kamu menawarkan senyum manis Hujan menghadirkan rindu Dan kamu menawarkan pilu Bila waktu tak bisa hentikan rinduku Pada derai hujan ku sampaikan tanpa ragu Ku sapa lembut kasihmu Ku rangkul erat cintamu Tapi sayang itu hanya angan candu Pergilah biarkan aku bebas menapak bumi kering yang basah pada hujan ini Pergilah lanjutkan cintamu hari lalu dan hari ini Aku akan menemukannya untuk hari ini dan selamanya Cintaku hari ini Rapuh Terpapar bebas terhempas luas dibumi keras Hujani cinraku hari ini”

“Untuk memastikan bahwa diri tidak mungkret, mengerut, untuk menjamin bahwa diri tetap bertahan pada volumenya, ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan kontak tetap dan teratur dengan para saksi masa silam, artinya, dengan teman dan sahabat. Teman dan sahabat adalah cermin kita; memori kita; kita tidak minta apa-apa pada mereka kecuali bahwa mereka mengelap-lap cermin itu dari waktu ke waktu supaya kita bisa melihat diri kita sendiri di situ.”

“*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025”

“Aku Pernah Memberimu Nama Aku pernah memberimu nama, mungkin kau lupa. Apa arti sebuah nama? Kaupetik ungkapan itu dari sebuah buku dan aku hanya tersenyum mengiyakan. Tapi aku menyukai nama yang aku berikan kepadamu. Meski sudah lama sekali rasanya aku tak menyapa dirimu dengan sebutan itu. Seperti ada yang hilang dari almanak. Hari-hari tanpa jejak. Waktu yang tak lagi memberi kita sekadar jarak untuk menghitung lagi apa yang pernah saling kita beri. Katamu, ini bukan tentang apa yang pernah engkau terima. Engkau tak merasa menyimpan apa-apa. Juga perasaan-perasaan yang dulu pernah aku titipkan kepadamu. Sebuah buku yang lusuh berisi potret kelabu. Mungkin perjalanan, mungkin juga kenangan. Beberapa penggal puisi yang tak lagi mampu menyembunyikan dirinya dari air mata. Dan lukisan wajah senja yang mengabur saat matahari perlahan tenggelam di dalam hitam bola matamu tak lagi mengingat namaku.”