Quotessence
Home / Topics / Luka Quotes

Luka Quotes

Browse 33 quotes about Luka.

Luka Quotes

“Biblia pamoja na historia vinatwambia kuwa mitume kumi na wawili wa Yesu Kristo waliamua kufa kinyama kama mfalme wao alivyokufa, kwa sababu walikataa kukana imani yao juu ya Yesu Kristo. Mathayo alikufa kwa ajili ya Ukristo nchini Ethiopia kwa jeraha lililotokana na kisu kikali, Marko akavutwa na farasi katika mitaa ya Alexandria nchini Misri mpaka akafa, kwa sababu alikataa kukana jina la Yesu Kristo. Luka alinyongwa nchini Ugiriki kwa sababu ya kuhubiri Injili ya Yesu Kristo katika nchi ambapo watu hawakumtambua Yesu. Yohana alichemshwa katika pipa la mafuta ya moto katika kipindi cha mateso makubwa ya Wakristo nchini Roma, lakini kimiujiza akaponea chupuchupu, kabla ya kufungwa katika gereza la kisiwa cha Patmo (Ugiriki) ambapo ndipo alipoandika kitabu cha Ufunuo. Mtume Yohana baadaye aliachiwa huru na kurudi Uturuki, ambapo alimtumikia Bwana kama Askofu wa Edessa. Alikufa kwa uzee, akiwa mtume pekee aliyekufa kwa amani. Petro alisulubiwa kichwa chini miguu juu katika msalaba wa umbo la X kulingana na desturi za kikanisa za kipindi hicho, kwa sababu aliwaambia maadui zake ya kuwa alijisikia vibaya kufa kama alivyokufa mfalme wake Yesu Kristo. Yakobo ndugu yake na Yesu (Yakobo Mkubwa), kiongozi wa kanisa mjini Yerusalemu, alirushwa kutoka juu ya mnara wa kusini-mashariki wa hekalu aliloliongoza la Hekalu Takatifu (zaidi ya futi mia moja kwenda chini) na baadaye kupigwa kwa virungu mpaka akafa, alipokataa kukana imani yake juu ya Yesu Kristo. Yakobo mwana wa Zebedayo (Yakobo Mdogo) alikuwa mvuvi kabla Yesu Kristo hajamwita kuwa mchungaji wa Injili yake. Kama kiongozi wa kanisa hatimaye, Yakobo aliuwawa kwa kukatwa kichwa mjini Yerusalemu. Afisa wa Kirumi aliyemlinda Yakobo alishangaa sana jinsi Yakobo alivyolinda imani yake siku kesi yake iliposomwa. Baadaye afisa huyo alimsogelea Yakobo katika eneo la mauti. Nafsi yake ilipomsuta, alijitoa hatiani mbele ya hakimu kwa kumkubali Yesu Kristo kama kiongozi wa maisha yake; halafu akapiga magoti pembeni kwa Yakobo, ili na yeye akatwe kichwa kama mfuasi wa Yesu Kristo. Bartholomayo, ambaye pia alijulikana kama Nathanali, alikuwa mmisionari huko Asia. Alimshuhudia Yesu mfalme wa wafalme katika Uturuki ya leo. Bartholomayo aliteswa kwa sababu ya mahubiri yake huko Armenia, ambako inasemekana aliuwawa kwa kuchapwa bakora mbele ya halaiki ya watu iliyomdhihaki. Andrea alisulubiwa katika msalaba wa X huko Patras nchini Ugiriki. Baada ya kuchapwa bakora kinyama na walinzi saba, alifungwa mwili mzima kwenye msalaba ili ateseke zaidi. Wafuasi wake waliokuwepo katika eneo la tukio waliripoti ya kuwa, alipokuwa akipelekwa msalabani, Andrea aliusalimia msalaba huo kwa maneno yafuatayo: "Nimekuwa nikitamani sana na nimekuwa nikiitegemea sana saa hii ya furaha. Msalaba uliwekwa wakfu na Mwenyezi Mungu baada ya mwili wa Yesu Kristo kuning’inizwa juu yake." Aliendelea kuwahubiria maadui zake kwa siku mbili zaidi, akiwa msalabani, mpaka akaishiwa na nguvu na kuaga dunia. Tomaso alichomwa mkuki nchini India katika mojawapo ya safari zake za kimisionari akiwa na lengo la kuanzisha kanisa la Yesu Kristo katika bara la India. Mathiya alichaguliwa na mitume kuchukua nafasi ya Yuda Iskarioti, baada ya kifo cha Yuda katika dimbwi la damu nchini India. Taarifa kuhusiana na maisha na kifo cha Mathiya zinachanganya na hazijulikani sawasawa. Lakini ipo imani kwamba Mathiya alipigwa mawe na Wayahudi huko Yerusalemu, kisha akauwawa kwa kukatwa kichwa. Yuda Tadei, ndugu yake na Yesu, aliuwawa kwa mishale alipokataa kukana imani yake juu ya Yesu Kristo. Mitume walikuwa na imani kubwa kwa sababu walishuhudia ufufuo wa Yesu Kristo, na miujiza mingine. Biblia ni kiwanda cha imani. Tunapaswa kuiamini Biblia kama mitume walivyomwamini Yesu Kristo, kwa sababu Biblia iliandikwa na mitume.”

“Maumivu ya matatizo ya yule aliyekukosea hayana tofauti na maumivu ya matatizo ya wewe uliyekosewa. Adui yako (kwa mfano) akifiwa na mke aliyempenda sana, atajisikia vibaya kama utakavyojisikia vibaya kufiwa na mke uliyempenda sana. Kuwa na huruma kwa waliokukosea, wakati wa shida.”

“Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025”

“…Dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Seorang fotografer ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata….para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang fotonya ternyata buta meskipun mempunyai mata. Keajaiban dunia adalah suatu ironi, di depan kemanusiaan yang terluka, manusia tertawa-tawa.”

“kalau suatu hari kamu bersedih dan hatimu merasa bagai terluka, mungkin aku belum bisa menjadi penghibur sempurna bagimu. kesedihan pasti akan tetap berada di hati dan bergerak mempengaruhi otakmu. dan kalau kamu mengungkapkan bahwa diriku penyebab kesedihanmu, entah bagaimana aku akan meminta maaf padamu. barangkali aku akan memarahi diriku sendiri hingga separuh diriku ikut membenciku. dengan begitu aku berharap kamu bisa melihat betapa penyesalanku telah melukaimu harus kubayar dengan membenci diri sendiri. seandainya hatimu belum menerima penawar itu, aku tahu harus melakukan apa untuk berusaha menyembuhkan hatimu dan mengembalikannya seutuh selayaknya hati bahagia. mintalah apa yang tak bisa aku lakukan, itu akan aku lakukan dengan segala nurani. malam akan aku tantang untuk berhenti mengutari bumi dan matahari aku tahan dari edarannya. kalau kamu sedang sendiri, katakan di mana kamu ingin aku menjemputmu supaya kita bisa berjalan berdua dan menggiring jarum jam melaju lebih kencang. tunjuklah titik kecil di langit malam, aku akan mendekati malaikat dan merayunya agar rela mengantarku mengambilnya dan memberikannya padamu agar menemanimu dan kesepian menjauhimu. kalau kamu sedang sendirian di dekat jendela kamarmu sambil menungguku, lihatlah ke arah utara, angin gunung mengantarkan rinduku buatmu. kalau hari ini kamu adalah diriku, cintailah dengan hatimu”

“SUNYA RURI Dalam ruang yang menelan semua suara, sebelum gema sempat lahir, aku mendengarnya— batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir. Ia tidak datang sebagai ancaman, tidak pula sebagai pelipur, melainkan sebagai bayangan purba yang pernah berdiri di sampingku ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia. "Monggo pinarak..." bisiknya lirih, selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah. "Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani," "kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga." Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami. Suwung tidak membutuhkan jawaban. Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh. Lewat tatapannya yang tidak berkelopak, aku melihat ulang diriku sendiri seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan: detik ketika harapan direbahkan, detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri— nyeri atau ketidakpastian. "Ngertenono..." bisiknya lembut, seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat. "Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka— ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara." Aku menelan kekosongan itu. Suwung memiringkan tubuhnya pelan, seakan menghirup aroma ketakutanku seperti kemenyan yang baru menyala. “Apa tresna mbingungake atimu?” suara itu menelusup lembut. "Sliramu takon jujuring liyan, déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra kang wus dadi jubah ngebaki raga— nganti awakmu lali, ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.” "Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan, amung nedya nemu kulit garing tanpa isèn-isèn katresnan.” Kesunyian mengental. Ia menaruh telinganya di dadaku seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya. “Payokna..." bisiknya lirih "Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah, arep tinampa ing bebrayan agung, lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.” "Nanging, apa artiné tentrem, yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan? Bukakna lawang sanggar kasepèn, sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng." Ia menutup mata. Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh. “Swara kuwi…” bisiknya hampir tak terdengar, "Kaya déné cempening mendha ing padhang, kang lumayu ing palataran laramu kang lawas." "Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban, nanging awit dheweke wis ngerteni: yèn sliramu tan nate bali kanggo nylametke." Tubuhku gemetar. Suwung tersenyum tipis, seperti retakan kecil pada batu padas. “Lara Ati..." ucapnya lirih. “Kuwi satunggaling sato alus. Dheweke tansah ngentèni. Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi. Dheweke lungguh— kaya déné aku— kanthi sabar nunggu wektu, nalika sliramu pungkasané wani mandheg anggènira lumayu.” Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang. “Sliramu kepéngin dadi béda,” suara itu meluncur lembut, “nanging, kamulyan tan lair saka panulakan. Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr kang wani mbukak gapura dhiri kang njalari kalbunira gumeter.” Ia bergerak mendekat. Bisikannya menusuk pori-poriku: “Yèn sliramu kepéngin sirep saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..." "Sliramu kudu bali. Mulih menyang papan kang sinengker ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.” Aku memejamkan mata. Dan saat itulah aku paham— kesunyian bukan lagi musuh, bukan lagi kehampaan yang mencekik, melainkan satu-satunya suara yang sanggup menampung semua jeritan. tanpa murka tanpa pamrih tanpa vonis hanya ikhlas. Desember 2025”