Quotessence
Home / Quotes / Quote by Wasiman waz

Quote by Wasiman waz

“kalau suatu hari kamu bersedih dan hatimu merasa bagai terluka, mungkin aku belum bisa menjadi penghibur sempurna bagimu. kesedihan pasti akan tetap berada di hati dan bergerak mempengaruhi otakmu. dan kalau kamu mengungkapkan bahwa diriku penyebab kesedihanmu, entah bagaimana aku akan meminta maaf padamu. barangkali aku akan memarahi diriku sendiri hingga separuh diriku ikut membenciku. dengan begitu aku berharap kamu bisa melihat betapa penyesalanku telah melukaimu harus kubayar dengan membenci diri sendiri. seandainya hatimu belum menerima penawar itu, aku tahu harus melakukan apa untuk berusaha menyembuhkan hatimu dan mengembalikannya seutuh selayaknya hati bahagia. mintalah apa yang tak bisa aku lakukan, itu akan aku lakukan dengan segala nurani. malam akan aku tantang untuk berhenti mengutari bumi dan matahari aku tahan dari edarannya. kalau kamu sedang sendiri, katakan di mana kamu ingin aku menjemputmu supaya kita bisa berjalan berdua dan menggiring jarum jam melaju lebih kencang. tunjuklah titik kecil di langit malam, aku akan mendekati malaikat dan merayunya agar rela mengantarku mengambilnya dan memberikannya padamu agar menemanimu dan kesepian menjauhimu. kalau kamu sedang sendirian di dekat jendela kamarmu sambil menungguku, lihatlah ke arah utara, angin gunung mengantarkan rinduku buatmu. kalau hari ini kamu adalah diriku, cintailah dengan hatimu”

Quote by Wasiman waz

Author

Wasiman waz

Browse famous quotes and profile details for Wasiman waz. more

You May Also Like

“Saifuddin al-Amidi (1233 Masihi) dalam kitabnya yang terkenal Abkar al-Afkar telah mengumpul dan menganalisis semua takrif ilmu yang terdapat pada zamannya secara terperinci. Beliau mendapati bahawa takrif yang dikemukakan oleh Fakhruddin al-Razi (meninggal dunia 1209 Masihi) adalah yang terbaik. Takrif itu, yang diketengahkan semula dan diperbaiki lagi oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas ialah seperti yang berikut: Merujuk kepada Allah sebagai asal segala ilmu, ia (ilmu) adalah ketibaan makna sesuatu ke dalam diri seseorang. Apabila merujuk kepada diri sebagai pentafsir, ilmu adalah ketibaan diri seseorang kepada makna tentang sesuatu.”

“Berjamaah lagi kita. Kuliti daging di pagi buta. Besok si jagal dengan parangnya Mata pisau di bawah mata kosongnya Bapak bersorban di atas mimbar. Berdiri tegap sunyi lalu berkelakar. Nak, nikmatilah daging halal mu di antara 365 hari yang kau sia siakan; karena sodara mu , terlalu kenyang pada bangkai mu Pada detik detik candaan nama ayah mu, ibu mu, ludahi wajah mu sepulang sholat, sepulang kau bermaksiat, menurut perhitungan bola mata mereka #andradobing”

“It has never been easy for me to understand the obliteration of time, to accept, as others seem to do, the swelling and corresponding shrinkage of seasons or the conscious acceptance that one year has ended and another begun. There is something here that speaks of our essential helplessness and how the greater substance of our lives is bound up with waste and opacity... How can so much time hold so little, how can it be taken from us? Months, weeks, days, hours misplaced – and the most precious time of life, too, when our bodies are at their greatest strength, and open, as they never will be again, to the onslaught of sensation.”