Quotessence
Home / Books / Identity

Identity

Book by Milan Kundera · 16 quotes · Rockstar Romance, Human Nature, Persahabatan

Filter quotes by topic

Identity Quotes

“Keep this in mind: it is our religion to praise life. The word "life” is the king of words. The king­word surrounded by other grand words. The word "adventure”! The word "future”! And the word "hope”! By the way, do you know the code name for the atomic bomb they dropped on Hiroshima? "Little Boy”! That's a genius, the fellow who invented that code! They couldn't have dreamed up a better one. Little boy, kid, tyke, tot - there's no word that's more tender, more touching, more loaded with future.”

“[…] without much ardor but quite unmistakably, she was writhing her hips as if she were dancing. When he was very close, he saw' her gaping mouth: she was yawning lengthily, insatiably: the great open hole was rocking gently atop die mechanically dancing body. Jean-Marc thought: she’s dancing and she’s bored. He reached the seawall: down below, on the beach, he saw men with their heads thrown back releasing kites into the air. They were doing it with passion, and Jean-Marc recalled his old theory: there are three kinds of boredom: passive boredom: the girl dancing and yawning; active boredom: kite-lovers; and rebellious boredom: young people burning cars and smashing shop windows.”

“Jean-Marc ergueu-se para ir buscar a garrafa de conhaque e dois copos. E, depois, de uma golada: - No fim da minha visita ao hospital, ele começou a contar recordações. Recordou-me aquilo que eu teria dito quando tinha dezasseis anos. Nesse momento compreendi o único sentido da amizade tal como hoje é praticada. A amizade é indispensável ao homem para o bom funcionamento da sua memória. Lembrar-se do passado, trazê-lo sempre consigo, é talvez a condição necessária para conservar, como se costuma dizer, a integridade do eu. Pare o eu não encolha, para que mantenha o seu volume, é preciso regar as recordações como as flores de uma vaso, e essa rega exige um contacto regular com testemunhas do passado, isto é, com amigos. Eles são o nosso espelho, a nossa memória; não se exige anda deles, apenas que de vez em quando puxem o lustro a esse espelho para que nos possamos mirar nele. Mas estou –me nas tintas para o que fazia no liceu! O que sempre desejei desde a primeira juventude, talvez desde a infância, foi algo completamente diferente: a amizade como um valor acima de todos os outros. Gostava de dizer: entre a verdade e o amigo, escolho sempre o amigo. Dizia-o por provocação, mas pensava-o a sério. Hoje sei que essa máxima era arcaica. Podia ser válida para Aquiles, o amigo de Pátroclo, para os mosqueteiros de Alexandre Dumas, até ao Sancho, que apesar dos desacordos era um verdadeiro amigo do seu amo. Mas já não o é para nós. Vou tão no meu pessimismo que hoje posso preferir a verdade à amizade.”

“Untuk memastikan bahwa diri tidak mungkret, mengerut, untuk menjamin bahwa diri tetap bertahan pada volumenya, ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan kontak tetap dan teratur dengan para saksi masa silam, artinya, dengan teman dan sahabat. Teman dan sahabat adalah cermin kita; memori kita; kita tidak minta apa-apa pada mereka kecuali bahwa mereka mengelap-lap cermin itu dari waktu ke waktu supaya kita bisa melihat diri kita sendiri di situ.”

“What happens next makes me feel like I’ve gone to heaven due to my heart rate going way too high suddenly. Her bedroom door slowly creeps open. Not a second later, a male body jumps into the room, screaming, “Boo!” And can you guess who screams the loudest? Elijah. “Kill her, not me!” Elijah screams and pulls me in front of his body. “Don’t kill me either. I’m too pretty to die,” Amelia yells and throws her body under Elijah’s and mine. “If you touch me,” I warn, “I’ll go psycho bitch on your skanky ass.” Silence fills the room. After my firm statement, the light is flicked on … and there stands Leo. He looks scared, pleased, and confused. Oh God, did I really just say that? He opens his mouth to say something but closes it a second later. “Well, that was not the reaction I was expecting,” he finally says blankly. Both Elijah and Amelia let go of me and return to their original spots. Not before giving their amused brother a dirty look. “You should have seen the way you guys held on to each other. Might as well have said the Hail Mary.” Leo gives us all a once-over and smiles at our straight, aggrieved faces. “That was the highlight of my month.” A throaty laugh escapes his mouth.”

“Ia sampai di talud laut; di bawah, di pantai, dilihatnya para lelaki dengan kepala mendongak sedang menaikkan layang-layang. Itu mereka lakukan dengan sepenuh perasaan, dan Jean-Marc teringat teori lamanya: ada tiga macam kebosanan: kebosanan pasif: gadis yang berdansa dan menguap itu; kebosanan aktif: para pecinta layangan itu; dan kebosanan yang memberontak: anak muda yang membakari mobil dan meremuk etalase toko.”

“Ya, aku bisa punya dua wajah, tapi tidak bisa keduanya kupakai berbarengan. Dengan kamu, aku memasang wajah haha-hehe dan serba meledek. Kalau lagi di kantor, kupakai wajah serius. Tugasku memeriksa lamaran dan biodata orang-orang yang cari kerja di kantor kami. Terserah padaku mau merekomendasi atau menolak mereka. Beberapa dari mereka, dalam suratnya mengungkapkan diri dalam pose yang sangat mutakhir, trendi, dengan segala macam ungkapan klise, dengan slogannya, dengan segala optimisme yang sesuai persyaratan. Tanpa perlu ketemu atau bicara dengan mereka pun aku sudah bisa benci pada mereka.”

“Tak ada yang bisa dilihat lewat jendela sekarang, kereta api ada dalam terowongan, dan ia merasa sedang pergi jauh dari kakak iparnya, dari Jean-Marc, dari teropongan orang, dari dimata-matai, menjauhi kehidupannya, kehidupan yang begitu tertancapkan padanya, yang begitu terbebankan padanya; kata-kata "lenyap dari pandangan" mendadak terlintas di pikirannya, dan ia kaget waktu menyadari bahwa perjalanan menuju kelenyapan tidaklah muram, bahwa naungan bunga mawar mitologisnya perjalanan itu lembut mulus dan ceria.”

“Dia membuka mulutnya dan menekankan lidahnya masuk ke mulut Jean-Marc, penuh semangat menjilat apa pun yang ditemukannya di dalam situ. Kegigihan lidah-lidah mereka ini bukan kebutuhan sensual melainkan desakan kebutuhan untuk saling mengabarkan bahwa keduanya siap main cinta, segera, saat itu juga, tuntas dan liar tanpa kehilangan waktu sedetik pun saja. Lidah-lidah mereka tidak ada kaitannya dengan nafsu atau kesenangan, lidah-lidah itu adalah bentara, wartawan-wartawati. Kedua orang itu tidak ada yang punya keberanian untuk mengucapkan dengan lugas dan keras, "Aku ingin bersetubuh denganmu, sekarang juga, tanpa ditunda," maka mereka suruh lidah-lidah mereka jadi juru bicara.”