“Angin bertiup di kerut sendunya wajahmu Terlukis indah dunia yg melekat di bibirmu Engkau tersenyum seakan berharap namun tak mau Engkau berbalik seakan melangkah namun tak melaju Ku sapa bayang terpapar lurus pundak ditata Ku coba selaras ikuti arah melayang disana Mengapa engkau seakan tak tergoncang alunan tersapa Mengapa terlihat biasa tak terhirau merana di kata Kecewa diri tersadar berdiri menyendiri Terlena diawan petir gejolak me-ngingini Sudah, sudah angan begitu ter-begini Akhirnya tau tau kau hanyalah Mimpi Ia, engkau mimpi Mimpiku sendiri. #Manhalawa, Maret 2020” LoveCintaMimpiSenyumAnginKecewaSendiriBayangan Author:Manhalawa
“Aku pernah hidup dan aku akan pernah mati ibaratkan sesuatu yang ada dan pergi dan aku... menunggu saat itu tiba disaat semuanya... akan tiada berguna lagi aku hanya setitik kecil diatas bumi dan jika hilang, hilanglah sudah tak ada lagi yang mengingatku tidak tak ada lagi kenanganku semuanya sirna ingatlah angin lalu, itulah aku...” LifeHidupWaktuKenanganMatiAnginHilangSirna Author:Manhalawa
“Angin tak pernah mengeluh, menghempas debu jalanan. Hujan tak pernah lalai, dalam rinai syahdu pun teruntai. Dawai. Damai. Bumi enggan mengaduh, barangkali sudah jengah diinjak dan diludah. Barangkali demikian aku. Dalam rindu kuku terendap waktu.” RinduWaktuHujanAnginDebu Book:Elipsis Source: Elipsis
“di ujung mulut takdir, tersentak keyakinan ku goyah akan suatu masa yang mulai tampak mendekat, bersama angin yang menghantar bimbang ini aku bertanya padamu, duduk kah engkau di senja itu sambil menggores hidup di atas kertas???” HidupSenjaTakdirAnginHidup Penuh ArtiBimbangGoresan Author:andra dobing
“Menjadi asing, Membenci bising, Adakah hubungan yang lebih rumit dibanding bersahabat dengan hening?” RinduSenjaAnginNestapaHening Author:silviamnque
“PastI, kita akan bertemu kan, dengan apa adanya, dengan canda yang kita pendam lama, dengan gemuruh angin yang lama tak kita hembuskan #andradobing” CintaSenjaSajakHujanAnginAndraDobingSenduCandaGemuruhPendam Author:andra dobing
“Duduklah sejenak, akan aku suguhkan jingga keemasan dan similir angin untukmu. Setelah itu kita akan bercengkrama tentang rindu yang terpasung.” LoveQuotesRinduMissSenjaAnginKangenGelisah Author:silviamnque
“SENJA DI PAGI HARI Aku merindukan senja di pagi hari, suasana sejuk yang telah lama memberikanku hangat; sembari aku menjadi bisu, melihat lembaran kering gugur dari asalnya, sampai secangkir kopi telah menjadi sisa; "sebentar", sapa angin; "bukankah dirimu tak menyukai kopi?", lanjutnya lirih; aku hanya mengangguk, tapi karena pahit aku dapat mengenal manis.” SenjaSajakKopiAngin Author:Epaphras Ericson Thomas
“Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. “Siapa… kamu?” Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis. Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap. Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu. “Untuk apa?” Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma. Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu. Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin. Kau kembali berjalan. Aku kembali diam. Kita tak lagi berbincang. Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu. Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi. Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah. Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku. Sebab bagimu aku selalu ada.” PuisiKopiAnginBulanBumiUdaraKeberadaanTelaga Book:Elipsis Source: Elipsis
“Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi? Kamulah yang terburuk! Karena kamu datang serupa angin, mengisi yang hampa, untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.” CintaAnginHampaBuruk Book:Maya Maia Source: Maya Maia
“Jangan mempermainkanku dengan kata kata yang mempunyai banyak ilusi Jangan mengecokkanku ribuan majas yang makin tak bertepi Sejenuh, sejenak, mengapung menggantung, Apakah kau menganggapku selirih sepandang seperjalanan menanti berlalu? Jujur, kau seindah, semenarik, terpandang Memang, kau sejernih, selugu, segala terpancar Lalu mengapa kau, adapun mau, adapun membaur Berdatang dan berlalu Tiba-tiba kau tertarik dengan angin yang terasakan mengepoi-sepoi sore hari segala terlalu Sungguh, kini kau sesulit ini dipahami? Ber-entah kata jika ditata berbaris Ber-jenaka di alun syair Berujung ku me-nyudahi Terbegitukah ku lakui...? ... #medan, April 2020 Judul: MengapaKah” InspirationalLove QuotesCintaSakitAnginMaluSyairMajasJenuhMengapa Author:Manhalawa
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” MenulisAnginAbadiSayangSuara Author:Pramoedya Ananta Toer
“Tanyalah pada angin, apakah ia bisa patah hati? Sejauh ini ia tak pernah menjawabnya. Tanyalah aku, bisakah aku patah hati? Sejauh ini kau membuatku seperti angin.” Patah HatiAnginSakit Hati Author:Alfin Rizal
“Siapa tau didalam hati, diam-diam angin ingin berhenti bertiup. Mengapa ia harus terus berhembus? tak bisakah ia menetap disuatu tempat yang ia suka? sesekali tak peduli dengan hukum konveksi, memuai oleh panas lalu terbang, tebal karena dingin lalu terjatuh kembali. Begitu sepanjang waktu, tapi Angin tak pernah berharap Bumi berhenti berputar.” Angin Author:nom de plume
“Kau tahu, pohon-pohon telah jadi batu, masa lalu pun tersapu hujan-gaduh itu. Kepada siapa aku harus menabalkan janji? Selain pada kenangan—mungkin selembar catatan bersamamu. Tapi hujan-rusuh dan angin-hingar, enggan mendengar rayuan. Yang kukatakan cuma gumam. Maka, dekatkan saja hatimu” SajakHujanAnginDekat Author:Ready Susanto
“AKU DAN ANGIN Aku dan angin sering berselisih paham, ia sering merayu untuk dikejar saat aku sedang lelah, tapi malah sembunyi saat aku penuh semangat. aku sungguh tak mengerti soal pertengkaran ini, tetapi aku juga tidak membenci angin, karena selesainya pasti kami akan berdamai.” SajakAnginDamaiBertengkar Author:Epaphras Ericson Thomas
“Edelweis ini bukan hanya sekedar bunga. Tapi ia memiliki filosofi yang indah. Makna sebuah perjuangan, ketulusan dan ketegaran. Itulah yang membuatnya disebut bunga keabadian,” sahut kakek itu sembari merentangkan tangan menikmati semilir angin yang datang. “Keindahan edelweis bukan saat ia berjejer di dalam vas. Bukan pula saat tersusun rapi dalam buket bunga dengan kain dan pita berwarna cerah. Tapi ia akan amat indah bila tetap di alam bebas, bermekaran di tengah hamparan sabana luas. Indah saat bergoyang diterpa angin pegunungan, memutih laksana salju di tanah lapang,” pungkasnya membiarkan Vidi termangu sendirian. (Tujuh Buket Bunga Keabadian, Dunia Tanpa Huruf R)” TravelCintaAnginRomantismoBungaGunungMawarBuketEdelweisVas Book:Dunia Tanpa Huruf R Source: Dunia Tanpa Huruf R
“Daun yang rapuh takut dengan angin. Karena ia tahu ketika angin berhembus ia akan jatuh. Apakah kau juga hanya hati yang rapuh? Yang akan jatuh ketika angin berhembus?” AnginRapuhDaunJatuhDaun RapuhHati Yang Rapuh Author:Rohmatikal Maskur
“Angin dingin kelam berderik, kabut putih menghapus mentari, tegak cahaya menusuk citra, dan pahatan gunung memecah langit hanya berselimut awan beralaskan zamrud.” AnginBerbisik Author:Jakarta, Indonesia