Quotessence
Home / Authors / Yoza Fitriadi

Yoza Fitriadi Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Yoza Fitriadi Quotes

“Dari buku yang saya pernah baca, seorang penulis pernah bilang begini. When you love what you are doing, you don’t look at the clock. Ya, walaupun ini bukanlah apa yang diharapkan. Tapi berusahalah cintai pekerjaan sekarang, yakinlah kita seakan-akan tidak sedang bekerja. Nikmatilah anak muda!” Tegas bang Rangga yang sudah enambelas tahun melakukan hal yang sama, menjaga perapian panggangan batubara. (Mencari Tumbal, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Tuan, dengar dulu penjelasan dokter Richard. Euthansia bertujuan untuk membebaskan diri Huup dari penderitaan. Bisa dilakukan dengan menyuntikkan zat-zat tertentu atau secara professional kita hentikan mesin penunjang hidup dan melepas tabung makanan. Sehingga rasa sakit yang dialami pasien sangat minimal,” ujarku memberikan pembelaan atas usul dokter senior tempatku bekerja. (Sebongkah Asa, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Seperti yang dikatakan Jiraiya sensei, bahwa sekarang pekerjaanku adalah membantu generasi berikutnya, dan menjadi contoh yang baik bagi mereka.. 11 tahun lalu berjejak langkah dalam balutan seragam putih abu2, dan sekarang diberi kepercayaan untuk meneruskan estafet mencerdaskan kehidupan bangsa.. Terimakasih untuk hari yang istimewa, bersama muda mudi Smekta. Benar akan kebanggaan mengenakan seragam putih organisasi bernama PGRI ini. Karena menjadi guru adalah sebuah kehormatan..”

“Ia memang telah meninggal, namun semangat patriotiknya tak pernah usang. Tak sulit untuk menemukan Kartini di masa kini, banyak tokoh perempuan yang begitu menginspirasi. Pintar, rupawan, sukses, kaya raya, dermawan dan kharismatik banyak dijumpai di khalayak ramai,” ujarku membuka cerita. “Tapi itu terlalu jauh, banyak yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sosok bu Jumiati salah satu diantaranya, guru yang senantiasa berbagi ilmu untuk kita semua. Bidan, artis bahkan mungkin tukang sapu sekolah kita bisa jadi menjadi Kartini masa kini,” pungkasku disambut tepuk tangan bu Jumiati dengan mata sembab. (Kartini Masa Kini, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Senang berkenalan dengan kalian. Ah, itu memang “ruh” kami di sini. Al-Quran adalah suplemen terbaik untuk bisa terus berkembang. Kata abi, harus sering dibaca dan diamalkan bila ingin mudah dihafal. Terimakasih untuk potret yang amat indah. Tapi maaf, aku dan teman-temanku tak akan pernah meninggalkan bumi para ambiya’ ini sejengkal pun. Adalah tugas kami untuk menjaga Masjidil Aqsha hingga kemenangan itu tiba. Khalid (Korespondensi Tak Berbalas, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Tapi, Bun. Pak Amir di kelas tadi bilang bintang itu hanyalah kumpulan material raksasa berwujud bola gas hidrogen, helium dan partikel debu. Benda mati yang terbentuk milyaran tahun silam. Mana sih yang benar, apa mamaku dulu berbohong?” sanggahku cepat. “Entahlah, Nak. Bunda tak seberuntung dirimu yang bisa mengecap bangku SMA, menjelajahi dunia lewat buku, internet atau apalah namanya. Juga tak mengenal mamamu sebelumnya untuk sekedar tahu apakah ia berkata benar atau dusta. Tapi setidaknya percayalah, rembulan yang benderang dan bintang yang menghiasi malam ini adalah perwujudan cinta dari sang Maha Penyayang untukmu Yenni Mirantika,” tatapan matanya amat meneduhkan.”

“Masih ingat ikrar kita dulu. Mulai hari ini kita berempat adalah sahabat. Layaknya saudara sedarah, tak ada rahasia di antara kita meski itu hanya hal kecil yang tak kasat mata. Tak boleh ada yang disembunyikan meski itu menyakitkan. Dan tak ada pula yang boleh bertengkar hebat, karena itu sama saja dengan menyakiti tubuhnya sendiri.” Ujar Toni panjang lebar sembari mengingatkan kembali ikrar kami berempat dulu saat pertama kali mengucapkan janji sedarah. “Kita punya cita-cita agung, tumbuh sukses dengan kehidupan yang tenang.” Sambung Ilham kemudian sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Toni. “Tampil brilian, dengan saling menutupi kekurangan yang lain tanpa perlu belas kasihan.” Lanjutku yang ikut meletakkan tangan kanan di atas tangan mereka berdua. “Berani maju karena kita ada untuk saling menopang.” Ucap Reza kemudian melengkapi formasi empat tangan yang telah bersusun rapi. “Kita adalah saudara tak sedarah. Fantastic Four yang siap mengguncang dunia. Eaaaa,” sahut kami berempat kompak dilanjutkan dengan rangkulan hangat.”

“Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi seantero sekolah juga merasakan lubang kehampaan. Ia bukanlah sosok guru yang sering mencuri waktu demi kepentingan sendiri. Bukan pula pribadi yang kerap mengambil handphone dalam saku tanpa peduli muridnya pintar atau diam tak mengerti. Ia tak tampak seperti orang kebanyakan. Oknum guru yang tak merasa khianat walau kerap datang terlambat. Mereka yang hanya mengingat hak sementara kewajiban cuma dicatat. Pendidik yang selalu memberi tugas tapi jarang memperjelas. Pegawai yang membanggakan sertifkasi tanpa memikirkan kualitas beriring prestasi. (Pejuang Cinta, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Bapak pernah dengar ini. You can buy clock sir, but not time. Waktu tak bisa diulang. Pembelajaran untuk lebih waspada esok lusa,” jawab sosok yang memperkenalkan diri dengan nama Julia. “Lagipula uang bukan segalanya, Pak. Ada banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. You can buy blood, but not life. Lihat betapa banyak mereka yang punya uang dan kekuasaan, tapi tak pernah merasa puas. Sebaliknya mereka yang hidup bersahaja, merasa kaya. Karena syukur tak pernah lepas dari hatinya,” sahutnya makin antusias. (Bidadari Jalanan, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Kami memang belum mampu bicara banyak di sepakbola. Namun atlit kami kami berhasil meraih podium tertinggi di event bulutangkis tertua di dunia,” sahutku bangga menahan air mata yang tinggal menunggu waktu untuk pecah. Merah putih pun berkibar dengan gagahnya beriring kumandang Indonesia Raya. (I am an Indonesian and I am proud, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Inilah rupa kami, berdandan seakan-akan bukan generasi intelek yang melekat pada jiwa mahasiswa. Rambut 1 cm untuk laki-laki dan kepang jalin 17 untuk perempuan, dasi kantor warna mencolok, celana dasar hitam yang ujungnya dimasukkan ke dalam kaos kaki belang. Menyandang tas karung gandum bertali sumbu kompor dengan berbagai macam isi, plus papan nama dari karton dengan inisial masing-masing. Ini rupanya pakaian mahasiswa. (Agustus 10 Tahun Silam, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Edelweis ini bukan hanya sekedar bunga. Tapi ia memiliki filosofi yang indah. Makna sebuah perjuangan, ketulusan dan ketegaran. Itulah yang membuatnya disebut bunga keabadian,” sahut kakek itu sembari merentangkan tangan menikmati semilir angin yang datang. “Keindahan edelweis bukan saat ia berjejer di dalam vas. Bukan pula saat tersusun rapi dalam buket bunga dengan kain dan pita berwarna cerah. Tapi ia akan amat indah bila tetap di alam bebas, bermekaran di tengah hamparan sabana luas. Indah saat bergoyang diterpa angin pegunungan, memutih laksana salju di tanah lapang,” pungkasnya membiarkan Vidi termangu sendirian. (Tujuh Buket Bunga Keabadian, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Nak, sebentar lagi putri satu-satunya ayah akan menjadi tanggung jawabmu. Kalian berdua akan menikah. Berjanjilah bahwa kau akan selalu menjaga dan tak akan membiarkan ia menderita,” pinta ayah Inneke padaku. “Semestinya hari ini adalah hari yang paling berbahagia bagi kalian berdua, tentunya bagi ayah juga. Tapi entah mengapa ayah merasa akan ada yang hilang. Sebuah lubang besar menganga, persis seperti saat ibunya Keke berpulang duapuluh lima tahun silam,” sambungnya dengan mata berkaca-kaca. “Ayah titip Keke padamu,” pungkas ayah Inneke sembari memberikan pelukan hangat ke arahku. Aku tahu ia tengah menangis meski pandanganku bersebrangan. Pundakku basah oleh air hangat yang semakin lama makin sembab. (Ayah Kedua, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Ingat, janji kita bulan lalu. Siapapun di antara kita yang menikah lebih dahulu wajib membayar nazar berlari stadion kampus lima keliling. Siapapun yang pertama kali dapat pekerjaan, gaji pertamanya wajib dipakai untuk borong gerobak es tebu. Siapapun nanti yang petama kali punya anak laki-laki, wajib namanya diambil dari singkatan nama kita berempat. Bukankah gitu, brother.” Celetuk Ilham yang kembali pada topik awal. “Dan siapapun yang pertama kali meninggal dunia di antara kita berempat, tiga orang tersisa wajib untuk menemani, mengafani dan menyalatkan hingga menggali liang kubur.” Sahut Toni yang entah mengapa terucap point perjanjian absurd itu.”

“Hei. Kalian masih ingat dengan apa yang pernah saya sampaikan saat awal seleksi. Sepakbola adalah kombinasi dari kekompakan pemain, sehebat apapun kalian bermain akan kalah bila tak ada kesinambungan dalam harmonisasi dengan rekan yang lain,” cetus pelatih menyambar dengan cepat. “Ingat. Bukan nama yang tertera di punggung kostum kalian yang penting, tapi logo Bengkulu FC di dada adalah segalanya,” nasihat dari coach Handoyo yang akan selalu kujadikan sebagai teladan. “Kalau kalian berdua masih seperti ini, jangan harap ada tempat bagi kalian untuk starting eleven di pertandingan selanjutnya,” pungkas coach Handoyo sembari meninggalkanku dan Yanusa yang masih tertunduk bersalah. “Impian Itu Milik Universal. Jalan Yang Ditempuhlah Yang Menjadi Pembeda” (Tendangan Dari Pesisir, Dunia Tanpa Huruf R)”