Quotessence
Home / Topics / Komitmen Quotes

Komitmen Quotes

Browse 13 quotes about Komitmen.

Komitmen Quotes

“Masih ingat ikrar kita dulu. Mulai hari ini kita berempat adalah sahabat. Layaknya saudara sedarah, tak ada rahasia di antara kita meski itu hanya hal kecil yang tak kasat mata. Tak boleh ada yang disembunyikan meski itu menyakitkan. Dan tak ada pula yang boleh bertengkar hebat, karena itu sama saja dengan menyakiti tubuhnya sendiri.” Ujar Toni panjang lebar sembari mengingatkan kembali ikrar kami berempat dulu saat pertama kali mengucapkan janji sedarah. “Kita punya cita-cita agung, tumbuh sukses dengan kehidupan yang tenang.” Sambung Ilham kemudian sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Toni. “Tampil brilian, dengan saling menutupi kekurangan yang lain tanpa perlu belas kasihan.” Lanjutku yang ikut meletakkan tangan kanan di atas tangan mereka berdua. “Berani maju karena kita ada untuk saling menopang.” Ucap Reza kemudian melengkapi formasi empat tangan yang telah bersusun rapi. “Kita adalah saudara tak sedarah. Fantastic Four yang siap mengguncang dunia. Eaaaa,” sahut kami berempat kompak dilanjutkan dengan rangkulan hangat.”

“Ada saatnya dimana kita akan berlibur berdua, tidak ada yang mengganggu, tidak ada bising, selain terjangan ombak terhadap karang, kita akan bercengkrama membicarakan komitmen kita berujung dimana. Sesampai senja kita akan berjalan lebih ke tengah mencari karang yang luas dan kita duduk ditengahnya, agar ombak tak mampu membasahi badan. Kita saling menggengam erat, agar ombak dahsyat tidak menjatuhkan kita. Sampai senja hilang, kita juga. Tak ada yang melihat, tak ada yang tau apa yang kita bicarakan dan kita lakukan.”

“Hanya karena aku tak pernah lagi menghubungimu, jangan anggap aku telah kehilangan rasaku. Melupakanmu tak pernah semudah itu. Di antara bisingnya repetisi semu, tengoklah langit-langit kamarmu. Ada beberapa harap yang kugantungkan di sana; manifestasi dari untaian doa yang kukirim setiap kali namamu terlintas dalam kepala. Pastikan itu menjadi bunga tidurmu. Cukupkan itu menjadi obat lelahmu.”

“Ingat, janji kita bulan lalu. Siapapun di antara kita yang menikah lebih dahulu wajib membayar nazar berlari stadion kampus lima keliling. Siapapun yang pertama kali dapat pekerjaan, gaji pertamanya wajib dipakai untuk borong gerobak es tebu. Siapapun nanti yang petama kali punya anak laki-laki, wajib namanya diambil dari singkatan nama kita berempat. Bukankah gitu, brother.” Celetuk Ilham yang kembali pada topik awal. “Dan siapapun yang pertama kali meninggal dunia di antara kita berempat, tiga orang tersisa wajib untuk menemani, mengafani dan menyalatkan hingga menggali liang kubur.” Sahut Toni yang entah mengapa terucap point perjanjian absurd itu.”