Quotessence
Home / Topics / Kartini Quotes

Kartini Quotes

Browse 127 quotes about Kartini.

Kartini Quotes

“Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. saya berpikir-pikir dan mengelamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekekliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orang menderita disekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh. Lebih keras lagi dari suara mengerang dan mengeluh terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja! Berjuanglah membebaskan diri! Baru setelah kamu bekerja membebaskan diri, akan dapatlah kamu menolong orang lain! Bekerja! Suara itu saya dengar terang sekali.”

“Setiap orang tahu, bahwa pada umumnya gadis Jawa tidak diberitahu mengenai rencana perkawinan yang dibuat para pelindungnya untuknya. Dalam daerah Pasundan boleh jadi betul, bahwa anak perempuan dan anak muda yang bertunangan bisa saling mengenal, melihat, dan bertemu, tetapi tanyakanlah di tempat-tempat lain mana di Jawa hal itu terjadi.”

“Apa yang lebih menyedihkan daripada kehidupan kanak-kanak yang sengsara, apa yang lebih sengsara daripada anak-anak yang semuda itu harus menanggung kepahitan hidup? Dan gadis-gadis terutama sangat susah hidupnya, karena mereka telah berada di tempat dimana alam setiap hari diperkosa. Bukankah itu memperkosa kodrat alam namanya, apabila perempuan harus tinggal dengan damai serumah dengan madunya? Sungguh, anak bangsa itu sendiri, orang perempuan harus memperdengarkan suaranya! Masih akan dapatkah dengan tenang orang mengatakan "keadaan mereka baik" kalau orang melihat dan mengetahui semuanya, yang telah kami lihat dan kami ketahui itu?”

“Belajar pada usia yang matang ada pulalah keuntungannya. Kami sekarang mengerti jauh lebih baik dan memahami segala sesuatu. Dan banyak hal yang dulu bagi kami mati sekarang menjadi hidup. Kami tertarik terhadap sangat banyak hal yang dulu tidak kami pedulikan, semata-mata hanyalah karena kami tidak mengerti. Alangka bahagia kami, apa bila sekarang ada seseorang yang dapat menerangkan hal-hal yang sangat menarik itu kepada kami. Guru-guru yang diam itu sekarang harus menjawab semuapertanyaan kami. Hari ini ada "bahasa". Anak-anak heran melihat apa yang kami lakukan, mereka tidak dapat mengerti apa yang kami lakukan. Aduhai! Bilakah saat yang bahagia itu akhirnya akan tiba, saat dimana bagi dunia kami boleh memeluk studi sebagai pengantin kami.”

“Bangsa Jawa itu bangsa dongeng dan kenang-kenangan. Siapakah yang pada suatu ketika akan mengantarkan bangsa itu dari dunia hikayat dan legenda ke kehidupan yang nyata? Bukankah kita harus menuju ke situ? Dan dengan menyingkirkan takhayul itu, tidak perlulah karenanya mereka menginjak-injak keindahannya.”

“Banyak sekali sifat yang baik pada bangsa saya. Banyak sekali keindahan di dalam kepercayaannya yang menarik dan kekanak-kanakan. Barangkali kedengarannya aneh, namun walaupun demikian hal itu adalah suatu kenyataan. Kalian Bangsa Eropah telah mengajar saya mencintai tanah air dan bangsa saya sendiri. Pendidikan Eropah justru mendekatkan kami kepada bangsa kami dan tidak menjauhkannya. Membuka mata dan hati kami untuk melihat keindahan tanah air dan bangsa. Dan juga keperluannya yang mendesak melihat tempat-tempat lukanya. Kami sangat mencintai negeri dan bangsa kami! Aduhai! Seandainya kami suatu ketika dapat berbuat sesuatu untuk membantu mendatangkan kebahagiaan bagi mereka, maka alangkah bahagia kami.”

“Angkatan muda, tiada pandang laki-laki atau perempuan wajiblah berhubungan. Masing-masing secara sendiri-sendiri dapat berbuat sesuatu untuk memajukan, meningkatkan derajat bangsa kami. Tetapi apabila kami bersatu, mempersatukan kekuatan kami, bekerja bersama-sama, maka hasil usaha kami akan lebih besar. Bersatu kita kukuh dan berkuasa.”

“Adapun sekarang teman setia, saya akan bercerita kepadamu. Tentu saja benar-benar dari hati ke hati tentang berbagai hal mengenai rencana kami. Jalan bagi kami untuk berdiri sendiri akan terbuka. Dengan demikian sekaligus kami dapat mengabdikan diri kepada sesama manusia seperti: dokter, bidan, guru, pengarang, ahli dalam berbagai seni rupa. Jalan yang lainnya masih terbuka juga bagi kami untuk hidup berdiri sendiri. Tetapi kami tidak ingin menempuh jalan itu, karena pekerjaan itu tidak bermanfaat bagi bangsa kami. Apakah gunanya bagi bangsa kami apabila kami misalnya menjadi pembantu apoteker, pemegang buku, pengetuk kawat, klerek pada salah satu kantor dan lain-lain macam itu? Lingkungan kerja dan kehidupan terikat kepada pekerjaan seperti itu tidak menarik hati kami. Kami ingin hidup kaya dengan jasa dan penuh dengan cita-cita.”

“Dan dimana urusan rumah tangga ada di tangan perempuan, di situ sudah barang tentu orang harus mulai mengajar perempuan agar hemat dulu, apabila orang ingin lihat rakyat hemat. Apa gunanya orang laki-laki belajar mengenal kebaikan itu kalau perempuannya sendiri sebagai pemegang rumah tangga tidak tahu nilai uang?”

“Aduhai! Ayah, mengapa bukan suara hati sendiri yang didengar, dituruti? Mengapa orang lain yang tidak sedikit juga menaruh kasih kepada kami dan tidak pula kami sayangi yang dipanggil membicarakan perkara yang harus diputuskan oleh hati sanubari Ayah sendiri, sedang putusan Ayah sajalah yang kami minta, kami perlukan.”

“Bermimpilah terus, bermimpilah terus, bermimpilah selama kamu dapa bermimpi! Apabila tiada mimpi, apakah jadinya hidup? Keadaan yang sesungguhnya biasanya sangat kejam. Barang kali memang betul apa yang dikatakan orang, bahwa sebenarnya kami harus tinggal seorang diri di sebuah pulau yang tidak didiami manusia! Tetapi jika demikian, orang lalu betul-betul akan memikirkan diri sendiri saja bukan? Saya kira kami harus hidup dengan dan untuk orang banyak. Itulah tujuan hidup, untuk membuat hidup indah! Derita akan meluhurkan, sekurang-kurangnya kalau orangnya baik. Dalam hal lain derita justru akan merendahkan. Juga kami akan berubah. Bagaimana perubahan itu hanya Tuhan yang tahu. Yang kami ketahui hanyalah, kami bukanlah lagi anak-anak yang lela.”

“Kalau terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada diri saya karena perbuatan orang lain, maka mendidihlah darah saya. Saya marah sekali, tetapi sesudah itu semacam rasa gembira meliputi diri saya. Saya senang karena merekalah yang berbuat demikian terhadap sayacdan bukan saya terhadap mereka, sebab jika demikian saya berakhlak rendah. Dan apabila saya menjadi sedih karenanya, maka hal itu disebabkan karena dengan berbuat hina itu mereka memperlakukan saya keji dan tidak adil.”