“You teach me now how cruel you've been - cruel and false. Why did you despise me? Why did you betray your own heart, Cathy? I have not one word of comfort. You deserve this. You have killed yourself. Yes, you may kiss me, and cry; and wring out my kisses and tears: they'll blight you - they'll damn you. You loved me - what right had you to leave me? What right - answer me - for the poor fancy you felt for Linton? Because misery, and degradation, and death, and nothing that God or Satan could inflict would have parted us, you, of your own will did it. I have no broken your heart - you have broken it; and in breaking it, you have broken mine. So much the worse for me that I am strong. Do I want to live? What kind of living will it be when you - Oh, God! would you like to lie with your soul in the grave?”
Source: Wuthering Heights
“The future belongs to those who harness the power of their youth, daring to dream and determined to achieve.”
“Saya putus asa; saya hanya boleh menulis yang bukan-bukan saja; hal-hal yang sungguh-sungguh tidak boleh saya singgung-singgung.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bayangkan! Sekolah tanpa anak, guru tanpa murid.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami hanya akan hidup untuk diri kami sendiri, sedang kami ingin hidup untuk masyarakat, mengabdikan diri sama sekali kepadanya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Sebagai perempuan, demikian keterlaluan kami dihina, berulang kali dan terus menerus!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Alangkah senangnya apabila kita mempunyai uang banyak; kita dapat membuat orang lain bahagia sekali.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Adakah yang lebih hina lagi selain bergantung kepada orang lain? Apabila sebelumnya ia mempelajaru suatu kepandaian, maka sekarang ia sudah bebas dan berdiri sendiri! Dan nasib yang bagaimanakah yang menantinya kalau dia masih hidup? Tentulah dia harus kawin.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tidak menjadi soal bagaimana caranya mengabdi kepada kebaikan, asalkan baik saja.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bermimpilah terus, bermimpilah terus, bermimpilah selama kamu dapa bermimpi! Apabila tiada mimpi, apakah jadinya hidup? Keadaan yang sesungguhnya biasanya sangat kejam.
Barang kali memang betul apa yang dikatakan orang, bahwa sebenarnya kami harus tinggal seorang diri di sebuah pulau yang tidak didiami manusia!
Tetapi jika demikian, orang lalu betul-betul akan memikirkan diri sendiri saja bukan? Saya kira kami harus hidup dengan dan untuk orang banyak. Itulah tujuan hidup, untuk membuat hidup indah!
Derita akan meluhurkan, sekurang-kurangnya kalau orangnya baik. Dalam hal lain derita justru akan merendahkan. Juga kami akan berubah. Bagaimana perubahan itu hanya Tuhan yang tahu. Yang kami ketahui hanyalah, kami bukanlah lagi anak-anak yang lela.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya