“Bayangkan! Sekolah tanpa anak, guru tanpa murid.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami hanya akan hidup untuk diri kami sendiri, sedang kami ingin hidup untuk masyarakat, mengabdikan diri sama sekali kepadanya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Sebagai perempuan, demikian keterlaluan kami dihina, berulang kali dan terus menerus!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Alangkah senangnya apabila kita mempunyai uang banyak; kita dapat membuat orang lain bahagia sekali.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Adakah yang lebih hina lagi selain bergantung kepada orang lain? Apabila sebelumnya ia mempelajaru suatu kepandaian, maka sekarang ia sudah bebas dan berdiri sendiri! Dan nasib yang bagaimanakah yang menantinya kalau dia masih hidup? Tentulah dia harus kawin.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tidak menjadi soal bagaimana caranya mengabdi kepada kebaikan, asalkan baik saja.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bermimpilah terus, bermimpilah terus, bermimpilah selama kamu dapa bermimpi! Apabila tiada mimpi, apakah jadinya hidup? Keadaan yang sesungguhnya biasanya sangat kejam.
Barang kali memang betul apa yang dikatakan orang, bahwa sebenarnya kami harus tinggal seorang diri di sebuah pulau yang tidak didiami manusia!
Tetapi jika demikian, orang lalu betul-betul akan memikirkan diri sendiri saja bukan? Saya kira kami harus hidup dengan dan untuk orang banyak. Itulah tujuan hidup, untuk membuat hidup indah!
Derita akan meluhurkan, sekurang-kurangnya kalau orangnya baik. Dalam hal lain derita justru akan merendahkan. Juga kami akan berubah. Bagaimana perubahan itu hanya Tuhan yang tahu. Yang kami ketahui hanyalah, kami bukanlah lagi anak-anak yang lela.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kalau terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada diri saya karena perbuatan orang lain, maka mendidihlah darah saya. Saya marah sekali, tetapi sesudah itu semacam rasa gembira meliputi diri saya. Saya senang karena merekalah yang berbuat demikian terhadap sayacdan bukan saya terhadap mereka, sebab jika demikian saya berakhlak rendah. Dan apabila saya menjadi sedih karenanya, maka hal itu disebabkan karena dengan berbuat hina itu mereka memperlakukan saya keji dan tidak adil.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budipun harus dipertinggi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“You are not in competition with anyone on social media. You must face the reality that your success requires you to focus on yourself.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You