“Angkatan muda, tiada pandang laki-laki atau perempuan wajiblah berhubungan. Masing-masing secara sendiri-sendiri dapat berbuat sesuatu untuk memajukan, meningkatkan derajat bangsa kami. Tetapi apabila kami bersatu, mempersatukan kekuatan kami, bekerja bersama-sama, maka hasil usaha kami akan lebih besar. Bersatu kita kukuh dan berkuasa.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Adapun sekarang teman setia, saya akan bercerita kepadamu. Tentu saja benar-benar dari hati ke hati tentang berbagai hal mengenai rencana kami. Jalan bagi kami untuk berdiri sendiri akan terbuka. Dengan demikian sekaligus kami dapat mengabdikan diri kepada sesama manusia seperti: dokter, bidan, guru, pengarang, ahli dalam berbagai seni rupa. Jalan yang lainnya masih terbuka juga bagi kami untuk hidup berdiri sendiri. Tetapi kami tidak ingin menempuh jalan itu, karena pekerjaan itu tidak bermanfaat bagi bangsa kami. Apakah gunanya bagi bangsa kami apabila kami misalnya menjadi pembantu apoteker, pemegang buku, pengetuk kawat, klerek pada salah satu kantor dan lain-lain macam itu? Lingkungan kerja dan kehidupan terikat kepada pekerjaan seperti itu tidak menarik hati kami. Kami ingin hidup kaya dengan jasa dan penuh dengan cita-cita.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Dokter itu terang jabatan yang amat baik, tidak semua orang dapat menjadi dokter.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kepercayaan meletakkan kewajiban besar”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apabila kami menghendaki orang lain mengikuti jejak kami, maka contoh yang kami berikan haruslah sesuatu yang berbicara, menimbulkan rasa kagum dan keinginan untuk menirunya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Siapa yang kiranya akan dapat lebih baik memperhatikan kepentingan seni Jawa kecuali anak bangsa itu sendiri, yang cintanya kepada seni Bumiputera sudah dibawanya sejak lahir dan tidak diajarkan kepadanya kemudian?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Dan dimana urusan rumah tangga ada di tangan perempuan, di situ sudah barang tentu orang harus mulai mengajar perempuan agar hemat dulu, apabila orang ingin lihat rakyat hemat. Apa gunanya orang laki-laki belajar mengenal kebaikan itu kalau perempuannya sendiri sebagai pemegang rumah tangga tidak tahu nilai uang?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“আমি আমার পিতৃদেব ভগবানচন্দ্র বসুর কথা বলিতেছিলাম। তাঁহার জীবন দেখিয়া শিখিয়াছিলাম যে, সার্থকতাই ক্ষুদ্র এবং বিফলতাই বৃহৎ। এইরূপে যখন ফল ও নিষ্ফলতার মধ্যে প্রভেদ ভুলিতে শিখিলাম, তখন হইতেই আমার প্রকৃত শিক্ষা আরম্ভ হইল। যদি আমার জীবনে কোনো সফলতা হইয়া থাকে তাহা নিষ্ফলতার স্থির ভিত্তির উপর প্রতিষ্ঠিত।”
Source: অব্যক্ত
“Tidak perlu penjelasan kenapa kemajuan kepandaian masyarakat Bumiputera tidak dapat pesat, apabila dalam hal itu perempuan terbelakang." Setiap waktu kemajuan perempuan itu ternyata merupakan faktor penting dalam peradaban bangsa.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Hanya orang-orang yang kuat hati dan pikirannya yang dapat bertahan dalam taufan semacam itu, dapat melawan kekejaman dan kekerasan dunia.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya