Quotessence
Home / Topics / Kartini Quotes

Kartini Quotes

Browse 127 quotes about Kartini.

Kartini Quotes

“Proses mencintai bangsa juga adalah mengenal secara lebih mendalam orang-orang yang berjasa membentuknya. Menghargai perjuangan pahlawan lebih dari mengabadikan namanya sebagai nama jalan, gedung, menghormat pada peringatan kelahirannya, atau menirukan bagaimana dia berpakaian. Menghargainya adalah mengenal lebih jauh sosoknya, jalan hidupnya, pemikirannya, dilema-dilema yang dihadapinya, hingga pergolakan batinnya - Teddy W. Kusuma”

“Tetapi saya tidak puas, sama sekali masih belum puas. Lebih jauh, selalu lebih jauh yang saya kehendaki! Bukan, bukan perayaan, bukan bersuka-sukaan yang saya inginkan, yang menjadi tujuan keinginan saya akan kebebasan. Saya ingin bebas agar saya boleh, dapat berdiri sendiri, tidak perly bergantung kepada orang lain, agar ... agar tidak harus kawin. Tetapi kami harus kawin, harus, harus. Tidak kawin adalah dosa yang paling besar bagi seorang perempuan Islam, cela yabg paling besar yang ditanggung seorang gadis Bumiputera dan keluarganya.”

“Betapa ganjil dan ajaibnya rasa kasih sayang itu; tidak mau dipaksa, tidak mau diikat dimanapun juga. Datang tanpa diundang, tanpa disangka-sangka. Dan dengan sepatah kata saja, tetapi sepatah kata yang menjenguk jauh ke dalam kehidupan batin masing-masing, jauh mengikat dua jiwa yang sampai sekarang belum saling mengenal dengan ikatan kukuh erat.”

“Apa yang tidak dapat dinyatakan dengan mulut maupun dengan pena, bagi kami matalah yang terapung dalam selubung air mata mengengadah ke langit. Seolah-olah mencari, akhirnya di sana, di tengah-tengah malaekat-malaekat Tuhan yang lain, kami menemukan malaekat yang seorang. Oleh karena hati kami mennagis pedih melihat kemurungan yang banyak di dunia ini, malaekat tersebut turun dengan kepakan sayap yang halus. Dia menghibur dan memenuhi kesedihan hati kami dengan kegembiraan ilahi. Syukur! Syukur! Syukur! Seru tiap denyut jantung, tiap denyut nadi. Dan tiap helaan nafas adalah doa syukur.”

“Tentu ia merasa nelangsa saat khalayak tidak lagi menghargai atas apa yang ada di kepalanya. Padahal inilah yang juga selalu diperjuangkannya agar seseorang dihormati bukan dari bagaimana ia tampil atau darimana ia dilahirkan, namun dari apa yang ada di kepalanya dan apa yang diperbuatnya dalam hidup - Teddy W. Kusuma”

“Kami ini hanya manusia biasa, sangat biasa, campuran dari unsur-unsur jelek dan baik seperti berjuta-juta orang lain. Mungkin juga pada kami terdapat lebih banyak unsur baik daripada jelek, tapi sebabnya sederhana saja. Bilamana orang hidup dalam lingkungan sederhana adalah mudah untuk menjadi baik. Orang dengan sendirinya menjadi baik - Kartini”