Browse 127 quotes about Kartini.
“Praktek teori "menderita dahulu baru bahagia" sangatlah berat penanggungannya!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kartini adalah pendekar. Ia bukan pendekar busana, melainkan pendekar sastra. Perjuangannya bukanlah agar kaum perempuan suka berkain kebaya, melainkan suka membaca.”
Source: Selamat Berpelita
“Ia memang telah meninggal, namun semangat patriotiknya tak pernah usang. Tak sulit untuk menemukan Kartini di masa kini, banyak tokoh perempuan yang begitu menginspirasi. Pintar, rupawan, sukses, kaya raya, dermawan dan kharismatik banyak dijumpai di khalayak ramai,” ujarku membuka cerita.
“Tapi itu terlalu jauh, banyak yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sosok bu Jumiati salah satu diantaranya, guru yang senantiasa berbagi ilmu untuk kita semua. Bidan, artis bahkan mungkin tukang sapu sekolah kita bisa jadi menjadi Kartini masa kini,” pungkasku disambut tepuk tangan bu Jumiati dengan mata sembab.
(Kartini Masa Kini, Dunia Tanpa Huruf R)”
Source: Dunia Tanpa Huruf R
“Sebab barang siapa tidak dapat merasakan sakit, dia juga kebal terhadap rasa gembira. Barang siapa tidak menderita, tidak juga dapat merasakan nikmat yang sesungguhnya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Harta paling suci di dunia ialah hati laki-laki yang luhur.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ingin benar saya mengetahui agar daya dapat mengerti. Itulah yang kami ingini benar!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Pendapat Eddie betul, bahwa Bangsa Jawa adalah bangsa yang hidup dalam dongeng dan hikayat.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Anak Bangsa Jawa sendirilah yang seharusnya memperdengarkan suaranya, agar Bangsa Belanda memperoleh pandangan yang lebih baik mengenai Bangsa Jawa dan menaruh simpati kepada bangsa itu.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kalau ada kepentingan besar, kepentingan kecil harus diabaikan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Minta, bagi kami terlalu mengerikan, walaupun kamu tahu bahwa permintaan kami tidak akan ditolak. Dalam hal ini satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ialah minta.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Hidup ini penuh teka-teki dan rahasia. Manusia mudah berubah-ubah. Jangan selalu mencari sebabnya pada tabiat yang lemah. Ada kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa dalam hidup yang menjadikan seorang pahlawan tampak menjadi pengecut. Jangan menyalahkan, betapapun hina dan rendahnya suatu perbuatan yang tampak, sebelum kamu mengetahui apa yang mendorong orang berbuat seperti itu.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Pergilah, bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan ribuan orang tertindas oleh hukum yang lalim, dengan faham yang keliru tentang benar dan salah, tentang baik dan jahat. Pergilah, pergilah, tanggunglah derita dan berjuanglah tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang kekal.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apalah gunanya pemerintah memaksa orang laki-laki menyisihkan uang, kalau isteri-isteri mereka yang menyelenggarakan rumah tangga tidak mengenal tentang nilai uang?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tiada barang mustahil di dunia ini! Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriak-teriakkan mustahil sama sekali, besok merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Dalam hatinya karena perlawanan terhadap keadaan zaman, jiwanya menjadi matang. Ia tidak akan, tidak mau tunduk. Ia harus menempuh jalan baru.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya, apa bila hidup - mudah-mudahan dijauhkan Allah - memisahkan kita. Seolah-olah samudera tak terbatas sekarang belum terbentang memisahkan kita. Tetapi jiwa yang bertemu dalam rasa simpati yang besar tidak memperhitungkan jarak, jiwa itu menyebrangi lautan-lautan yang paling besar dan negeri-negeri yang terbentang luas untuk saling berhubungan. Surat menyurat merupakan pertemuan yang luar biasa. Selamat bagi mereka yang pertama kali menemukannya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Jangan kau katakan saya tidak dapat, tetapi katakan saya mau.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumpiputera. Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kita harus hidup bersama-sama dan untuk semua manusia. Tujuan hidup kita ialah membuat hidup lebih indah.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cinta itu mahakuasa, demikianlah sudah berabad-abad dinyatakan dan dibuktikan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada juga kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat berhubungan dengan orang lain untuk mengantarkan orang ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak demikian peradaban tinggal permukaannya saja.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Jangan bangkitkan cita-cita yang pasti akan mati. Janganlah hendak bermimpi bila lebih dulu telah diketahui nanti akan bangun dengan teramat mengecewakan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Aduh maut. Kenapa kamu disebut kebengisan, kamu yang membebaskan manusia dari hidup yang kejam. Ni akan mengikuti dengan penuh rasa terimakasih dan kegembiraan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bukankah ia tidak perlu mencari dalam buku, kalau ia hendak tahu hal-hal yang jijik memuakkan. Hidup yang sesungguhnya penuh dengan hal seperti itu. Dan justru untuk menghindarinya, dalam pikirannya singgah di dunia-dunia yang diciptakan akal manusia secara alamiah atau khayal.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bagi kami tiada hari kemarin, tiada hari besok. Hanya hari sekarang yang nikmat, yang penuh cahaya bahagia yang ada! Keindahan demikian banyak membuat kepala saya pusing, membuat saya takut! Aduh, alangkah hebatnya kekecewaan kelak, bila mimpi dan angan-angan kami sekarang hilang lenyap jadi asap belaka.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Orang boleh memandang saya berbuat pura-pura, tetapi saya betul-betul tidak suka mendapat pujian.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Percayalah akan masa depan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Sebab dimanapun di dunia ini tak ada tempat yang membuat saya senang kecuali di rumah orang tua saya sendiri.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tanpa adat tersebut rupanya orang-orang sebangsa saya tak dapat hidup, maksud saya hal tentang menganut asas-asas, hukum, telah ditentukan ratusan tahun yang lalu walaupun sekarang orang tahu pasti bahwa banyak dari adat itutidak cocok lagi dalam masyarakat kami sekarang”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Potret memotret itu kegemaran yang mahal sekali.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tetapi saya ingin sekali bijaksana dan tidak merajuk, karena kenikmatan itu tidak untuk saya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Meskipun sekarang sebagian besar kebanyakan Kepala Bumiputera menyekolahkan anaknya hanya untuk gagah-gagahan saja, karena mereka tidak mau ketinggalan oleh yang lain. Dan bukan karena kesadaran mereka terhadap kegunaan pengetahuan bagi kaum perempuan baik itu untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bukankah seni rakyat salah satu alat pembantu kesejahteraan rakyat?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tiap orang pada suatu ketika harus merawat orang sakit. Dan sangatlah menyedihkan hati melihat orang yang kami sayangi menderita, sedang kami tidak tahu bagaimana meringankan penderitaan mereka.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cita-cita kami ingin memberikan kepada mereka sifat-sifat baik yang ada pada bangsa lain di samping sifat-sifat baik yang sudah ada pada mereka sendiri. Dan bukan untuk mendesak sifat-sifat mereka sendiri, melainkan untuk membuatnya lebih halus dan luhur!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik. Demikian juga halnya dengan rasa tiada terimakasih dan yang sejenisnya. Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami. Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita. Demikian pula, tanpa cita-cita kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apakah benar seperti kata orang bahwa di dalam alam yang amat lebar dan luas ini tidak ada dua benda yang benar-benar serupa, tidak ada dua orang yang sungguh-sungguh sama sifatnya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik. Demikian juga halnya dengan rasa tiada terimakasih dan yang sejenisnya. Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami. Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita. Demikian pula, tanpa cinta kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Mereka semuanya kasih dan sayang kepada kami, itulah yang membuat perjuangan kami justru lebih berat. Perbuatan kami telah menimbulkan penderitaan, penderitaan, penderitaan, penderitaan belaka bagi hati yang mengasihi kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Siapa tahu apa yang sebenarnya baik menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan penaik darah.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami mengira kami tahu banyak sekali tapi sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa. Kami mengira kami mempunyai kemauan, kemauan besi. Kami mengira kami dapat memindahkan gunung tetapi nyatanya hanya setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kekuatan kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ia tidak wajib patuh kepada siapapun, siapapun juga, kecuali terhadap suara batinnya, hatinya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tapi bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang? Maksud Tuhan terhadap kita adalah baik. Hidup ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita manusia sendiri umumnya membuatnya jadi kesengsaraan dan penderitaan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Karena bila taraf hidup kesenian suaty bangsa tinggi, maka budi bangsa itu sendiri adalah suatu puisi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Walaupun saya tidak beruntung sampai kepada ujung jalan itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Jalan sudah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami adalah anak manusia biasa, sangat biasa, campuran antara jahat dan baik, seperti jutaan anak yang lain. Boleh jadi pada saat ini dalam diri kami terdapat lebih banyak yang baik daripada yang jahat, tetapi sebabnya tidak perlu dicari lebih jauh. Orang yang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tidak sukar untuk menjadi baik; seolah-olah dengan sendirinya dia akan menjadi baik. Sama sekali bukan hikmat, bukan suatu jasa untuk tidak berbuat jahat; apabila tidak terbuka kesempatan bagi kita untuk berbuat demikian. Kelak apabila kami telah meninggalkan sarang orang tua yang hangat dan aman; berdiri dalam kehidupan manusia sepenuhnya; di situ tidak ada lagi tangan orang tua yang setia memeluk kami. Jika di sekeliling hidup kami angin ribut mengamuk dengan garang, tidak ada tangan yang penuh cinta menopang dan memegang kami. Jika kaki kami goyang, barulah pertama-tama akan nyata, apa sebenarnya kami ini.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ana nyawa ana upa. Ada nyawa ada rejeki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apakah gunanya memaksa orang laki-laki menyisihkan udang sekadarnya, kalau perempuan yang memegang rumah tangga tidak tahu akan harga uang itu?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tugas manusia ialah menjadi manusia.”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini