“Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumpiputera. Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“The competition in your life must be between the prior version of you and the current version of you. You have to focus on your lighthouse, your goals, and the greatest version of you that you’re driving toward.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Kita harus hidup bersama-sama dan untuk semua manusia. Tujuan hidup kita ialah membuat hidup lebih indah.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cinta itu mahakuasa, demikianlah sudah berabad-abad dinyatakan dan dibuktikan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada juga kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat berhubungan dengan orang lain untuk mengantarkan orang ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak demikian peradaban tinggal permukaannya saja.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Jangan bangkitkan cita-cita yang pasti akan mati. Janganlah hendak bermimpi bila lebih dulu telah diketahui nanti akan bangun dengan teramat mengecewakan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Aduh maut. Kenapa kamu disebut kebengisan, kamu yang membebaskan manusia dari hidup yang kejam. Ni akan mengikuti dengan penuh rasa terimakasih dan kegembiraan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bukankah ia tidak perlu mencari dalam buku, kalau ia hendak tahu hal-hal yang jijik memuakkan. Hidup yang sesungguhnya penuh dengan hal seperti itu. Dan justru untuk menghindarinya, dalam pikirannya singgah di dunia-dunia yang diciptakan akal manusia secara alamiah atau khayal.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bagi kami tiada hari kemarin, tiada hari besok. Hanya hari sekarang yang nikmat, yang penuh cahaya bahagia yang ada! Keindahan demikian banyak membuat kepala saya pusing, membuat saya takut! Aduh, alangkah hebatnya kekecewaan kelak, bila mimpi dan angan-angan kami sekarang hilang lenyap jadi asap belaka.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Orang boleh memandang saya berbuat pura-pura, tetapi saya betul-betul tidak suka mendapat pujian.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya