“Walaupun saya tidak beruntung sampai kepada ujung jalan itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Jalan sudah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami adalah anak manusia biasa, sangat biasa, campuran antara jahat dan baik, seperti jutaan anak yang lain. Boleh jadi pada saat ini dalam diri kami terdapat lebih banyak yang baik daripada yang jahat, tetapi sebabnya tidak perlu dicari lebih jauh. Orang yang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tidak sukar untuk menjadi baik; seolah-olah dengan sendirinya dia akan menjadi baik. Sama sekali bukan hikmat, bukan suatu jasa untuk tidak berbuat jahat; apabila tidak terbuka kesempatan bagi kita untuk berbuat demikian. Kelak apabila kami telah meninggalkan sarang orang tua yang hangat dan aman; berdiri dalam kehidupan manusia sepenuhnya; di situ tidak ada lagi tangan orang tua yang setia memeluk kami. Jika di sekeliling hidup kami angin ribut mengamuk dengan garang, tidak ada tangan yang penuh cinta menopang dan memegang kami. Jika kaki kami goyang, barulah pertama-tama akan nyata, apa sebenarnya kami ini.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ana nyawa ana upa. Ada nyawa ada rejeki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apakah gunanya memaksa orang laki-laki menyisihkan udang sekadarnya, kalau perempuan yang memegang rumah tangga tidak tahu akan harga uang itu?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“The only true competition is who you are versus who you need to be to achieve your desired outcome and greatest success.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tugas manusia ialah menjadi manusia.”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini
“Tidak ada yang berhak berlaku semena-mena dan menindas sesama hanya karena dia seorang bangsawan, atau karena dia adalah pemerintah kolonial.”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini
“Ketidaksetaraan inilah yang menyebabkan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi.”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini
“Proses mencintai bangsa juga adalah mengenal secara lebih mendalam orang-orang yang berjasa membentuknya. Menghargai perjuangan pahlawan lebih dari mengabadikan namanya sebagai nama jalan, gedung, menghormat pada peringatan kelahirannya, atau menirukan bagaimana dia berpakaian. Menghargainya adalah mengenal lebih jauh sosoknya, jalan hidupnya, pemikirannya, dilema-dilema yang dihadapinya, hingga pergolakan batinnya - Teddy W. Kusuma”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini