“Proses mencintai bangsa juga adalah mengenal secara lebih mendalam orang-orang yang berjasa membentuknya. Menghargai perjuangan pahlawan lebih dari mengabadikan namanya sebagai nama jalan, gedung, menghormat pada peringatan kelahirannya, atau menirukan bagaimana dia berpakaian. Menghargainya adalah mengenal lebih jauh sosoknya, jalan hidupnya, pemikirannya, dilema-dilema yang dihadapinya, hingga pergolakan batinnya - Teddy W. Kusuma”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini
“Pendidikan sekolah bagi anak-anak pada waktu sekarang merupakan hal yang biasa sekali, tetapi kalau jumlah anak mencapai 25 orang, bagaimana mungkin pendidikan yang sebaik-baiknya itu dapat diusahakan bagi mereka semua? Orang tidak berhak melahirkan anak apabila dia tidak mampu menghidupinya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bila golongan atas sudah berpendidikan, maka pendidikan seluruh bangsa hanya soal waktu saja.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kedudukan ibu rohani lebih tinggi dari ibu jasmani.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bahwa kebahagiaan perempuan yang paling tinggi, sejak berabad-abad yang lalu bahkan juga sampai saat ini adalah hidyp selaras bersama dengan laki-laki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“This competition in your life should be focused only on how you show up each day versus the version of you that you are striving to be.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Tetapi saya tidak puas, sama sekali masih belum puas. Lebih jauh, selalu lebih jauh yang saya kehendaki! Bukan, bukan perayaan, bukan bersuka-sukaan yang saya inginkan, yang menjadi tujuan keinginan saya akan kebebasan. Saya ingin bebas agar saya boleh, dapat berdiri sendiri, tidak perly bergantung kepada orang lain, agar ... agar tidak harus kawin. Tetapi kami harus kawin, harus, harus. Tidak kawin adalah dosa yang paling besar bagi seorang perempuan Islam, cela yabg paling besar yang ditanggung seorang gadis Bumiputera dan keluarganya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cinta, apakah yang kami ketahui tentang cinta di sini? Bagaimana kami dapat mencintai seorang laki-laki dan seorang laki-laki mencintai kami, kalau kami tidak saling mengenal, ya bahkan yang seorang tidak boleh melihat yang lain. Anak gadis dan anak muda dipisahkan sungguh-sungguh.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Para lanjut usia, jangan menolak segaka yang baru. Ingatlah, bahwa semua yang sekarang sudah tua, juga pernah baru.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya