“Sebab dimanapun di dunia ini tak ada tempat yang membuat saya senang kecuali di rumah orang tua saya sendiri.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Your life should be developed based on the principles of who you are and what you are built for, not the expectations from others or comparisons to others.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Tanpa adat tersebut rupanya orang-orang sebangsa saya tak dapat hidup, maksud saya hal tentang menganut asas-asas, hukum, telah ditentukan ratusan tahun yang lalu walaupun sekarang orang tahu pasti bahwa banyak dari adat itutidak cocok lagi dalam masyarakat kami sekarang”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Potret memotret itu kegemaran yang mahal sekali.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tetapi saya ingin sekali bijaksana dan tidak merajuk, karena kenikmatan itu tidak untuk saya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Meskipun sekarang sebagian besar kebanyakan Kepala Bumiputera menyekolahkan anaknya hanya untuk gagah-gagahan saja, karena mereka tidak mau ketinggalan oleh yang lain. Dan bukan karena kesadaran mereka terhadap kegunaan pengetahuan bagi kaum perempuan baik itu untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bukankah seni rakyat salah satu alat pembantu kesejahteraan rakyat?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tiap orang pada suatu ketika harus merawat orang sakit. Dan sangatlah menyedihkan hati melihat orang yang kami sayangi menderita, sedang kami tidak tahu bagaimana meringankan penderitaan mereka.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cita-cita kami ingin memberikan kepada mereka sifat-sifat baik yang ada pada bangsa lain di samping sifat-sifat baik yang sudah ada pada mereka sendiri. Dan bukan untuk mendesak sifat-sifat mereka sendiri, melainkan untuk membuatnya lebih halus dan luhur!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik. Demikian juga halnya dengan rasa tiada terimakasih dan yang sejenisnya. Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami. Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita. Demikian pula, tanpa cita-cita kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya