“Tiap orang pada suatu ketika harus merawat orang sakit. Dan sangatlah menyedihkan hati melihat orang yang kami sayangi menderita, sedang kami tidak tahu bagaimana meringankan penderitaan mereka.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Cita-cita kami ingin memberikan kepada mereka sifat-sifat baik yang ada pada bangsa lain di samping sifat-sifat baik yang sudah ada pada mereka sendiri. Dan bukan untuk mendesak sifat-sifat mereka sendiri, melainkan untuk membuatnya lebih halus dan luhur!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik. Demikian juga halnya dengan rasa tiada terimakasih dan yang sejenisnya. Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami. Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita. Demikian pula, tanpa cita-cita kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apakah benar seperti kata orang bahwa di dalam alam yang amat lebar dan luas ini tidak ada dua benda yang benar-benar serupa, tidak ada dua orang yang sungguh-sungguh sama sifatnya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik. Demikian juga halnya dengan rasa tiada terimakasih dan yang sejenisnya. Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami. Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita. Demikian pula, tanpa cinta kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Your success—or anyone else’s—does not come at someone else’s expense. Other people don’t have to fail for you to succeed. Your winning doesn’t have to mean there are losers.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Mereka semuanya kasih dan sayang kepada kami, itulah yang membuat perjuangan kami justru lebih berat. Perbuatan kami telah menimbulkan penderitaan, penderitaan, penderitaan, penderitaan belaka bagi hati yang mengasihi kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Siapa tahu apa yang sebenarnya baik menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan penaik darah.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami mengira kami tahu banyak sekali tapi sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa. Kami mengira kami mempunyai kemauan, kemauan besi. Kami mengira kami dapat memindahkan gunung tetapi nyatanya hanya setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kekuatan kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ia tidak wajib patuh kepada siapapun, siapapun juga, kecuali terhadap suara batinnya, hatinya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya