“Kami mengira kami tahu banyak sekali tapi sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa. Kami mengira kami mempunyai kemauan, kemauan besi. Kami mengira kami dapat memindahkan gunung tetapi nyatanya hanya setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kekuatan kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ia tidak wajib patuh kepada siapapun, siapapun juga, kecuali terhadap suara batinnya, hatinya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tapi bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang? Maksud Tuhan terhadap kita adalah baik. Hidup ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita manusia sendiri umumnya membuatnya jadi kesengsaraan dan penderitaan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Karena bila taraf hidup kesenian suaty bangsa tinggi, maka budi bangsa itu sendiri adalah suatu puisi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Walaupun saya tidak beruntung sampai kepada ujung jalan itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Jalan sudah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami adalah anak manusia biasa, sangat biasa, campuran antara jahat dan baik, seperti jutaan anak yang lain. Boleh jadi pada saat ini dalam diri kami terdapat lebih banyak yang baik daripada yang jahat, tetapi sebabnya tidak perlu dicari lebih jauh. Orang yang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tidak sukar untuk menjadi baik; seolah-olah dengan sendirinya dia akan menjadi baik. Sama sekali bukan hikmat, bukan suatu jasa untuk tidak berbuat jahat; apabila tidak terbuka kesempatan bagi kita untuk berbuat demikian. Kelak apabila kami telah meninggalkan sarang orang tua yang hangat dan aman; berdiri dalam kehidupan manusia sepenuhnya; di situ tidak ada lagi tangan orang tua yang setia memeluk kami. Jika di sekeliling hidup kami angin ribut mengamuk dengan garang, tidak ada tangan yang penuh cinta menopang dan memegang kami. Jika kaki kami goyang, barulah pertama-tama akan nyata, apa sebenarnya kami ini.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ana nyawa ana upa. Ada nyawa ada rejeki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apakah gunanya memaksa orang laki-laki menyisihkan udang sekadarnya, kalau perempuan yang memegang rumah tangga tidak tahu akan harga uang itu?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“The only true competition is who you are versus who you need to be to achieve your desired outcome and greatest success.”
Source: Suck Less, Do Better: The End of Excuses & the Rise of the Unstoppable You
“Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya