“There is no absolute formula for happiness—each unique condition of life can serve as the foundation for happiness in its own unique way. You can be happy when married with children, or when married without children. You can be happy when you are single, without a college degree, or with one. You can be happy when you are slim, you can be happy when you are overweight. You can be happy when living in a warm climate as in California, you can be happy when living in Montana, where you have severe winter conditions. As a sumo wrestler, you can be happy when you make it to yokozuna, or you can be happy while remaining one of the underdogs all your career, doing small chores, never giving up.”
Source: Awakening Your Ikigai: How the Japanese Wake Up to Joy and Purpose Every Day
“Setiap orang tahu, bahwa pada umumnya gadis Jawa tidak diberitahu mengenai rencana perkawinan yang dibuat para pelindungnya untuknya. Dalam daerah Pasundan boleh jadi betul, bahwa anak perempuan dan anak muda yang bertunangan bisa saling mengenal, melihat, dan bertemu, tetapi tanyakanlah di tempat-tempat lain mana di Jawa hal itu terjadi.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apa yang lebih menyedihkan daripada kehidupan kanak-kanak yang sengsara, apa yang lebih sengsara daripada anak-anak yang semuda itu harus menanggung kepahitan hidup?
Dan gadis-gadis terutama sangat susah hidupnya, karena mereka telah berada di tempat dimana alam setiap hari diperkosa. Bukankah itu memperkosa kodrat alam namanya, apabila perempuan harus tinggal dengan damai serumah dengan madunya?
Sungguh, anak bangsa itu sendiri, orang perempuan harus memperdengarkan suaranya! Masih akan dapatkah dengan tenang orang mengatakan "keadaan mereka baik" kalau orang melihat dan mengetahui semuanya, yang telah kami lihat dan kami ketahui itu?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“As the Siamese says: "Pea rattles loud in empty head".”
“It's spooky how we'll never know how many people have died while trying to mail a chain letter.”
Source: Chip Chip Chaw!
“Simpati itu bagi kami merupakan kepuasan, kekuatan, bantuan, kegembiraan, hiburan.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Poligami seperti dijalankan pada bangsa-bangsa Timur adalah suatu kebajikan bagi kaum perempuan dan gadis-gadis yang di dalam negerinya tidak dapat hidup tanpa suami atau pelindung - Max Muller”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Belajar pada usia yang matang ada pulalah keuntungannya. Kami sekarang mengerti jauh lebih baik dan memahami segala sesuatu. Dan banyak hal yang dulu bagi kami mati sekarang menjadi hidup. Kami tertarik terhadap sangat banyak hal yang dulu tidak kami pedulikan, semata-mata hanyalah karena kami tidak mengerti. Alangka bahagia kami, apa bila sekarang ada seseorang yang dapat menerangkan hal-hal yang sangat menarik itu kepada kami. Guru-guru yang diam itu sekarang harus menjawab semuapertanyaan kami. Hari ini ada "bahasa". Anak-anak heran melihat apa yang kami lakukan, mereka tidak dapat mengerti apa yang kami lakukan. Aduhai! Bilakah saat yang bahagia itu akhirnya akan tiba, saat dimana bagi dunia kami boleh memeluk studi sebagai pengantin kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami harus mencari semua bagian yang terang. Apabila tidak ada, maka yang gelap itu agak digosok. Itulah seninya agar dapat hidup dengan gembira, bukan?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya