Quotessence
Home / Topics / Pahit Quotes

Pahit Quotes

Browse 10 quotes about Pahit.

Pahit Quotes

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa— dan kalian menyebut itu “situasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan Mereka tidak gentayangan. Mereka menunggu. Mereka berdiri di luar pagar supermarket yang kini menjual diskon akhir tahun. Mereka menunggu kalian yang berjalan terburu-buru sambil menunduk menatap ponsel agar tidak melihat, bahwa bekas gedung itu pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia. Mereka melambai. Tidak menakut-nakuti. Hanya mengingatkan. V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi Kalian ingin melupakan. Kalian ingin menjadikan peristiwa hanya bab kecil di buku sejarah. Kalian bilang tragedi itu bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi, atau apalah... Aku bilang: itu adalah dosa yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, dan nama-nama yang terkubur di bawah kata “kerusuhan”. VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian Jika masih ada harapan, itu bukan dari kekuasaan, bukan dari hukum, bukan dari ucapan belasungkawa. Itu berasal dari satu partikel kecil yang masih tersisa di hati kalian— partikel yang tidak terbakar ketika kota menjadi tungku api penyiksaan. Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri. Ia menunggu kalian menatap cermin tanpa menunduk. VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang Mereka tidak meminta keadilan. Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka. Mereka meminta diingat. Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua. Karena yang dilupakan lebih mati daripada kematian itu sendiri. Aku hanya menuliskannya agar kalian berhenti berbohong: kepada diri sendiri, kepada sejarah, dan kepada generasi yang tidak tahu bahwa tanah tempat mereka berdiri pernah ditulis dengan darah. Dan jika kalian menyebut ini puisi, maka biarkan ini menjadi puisi yang menampar kesadaran kalian sampai kalian ingat bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia. Mei 2024 - Revisi 2025”