Quotessence
Home / Quotes / Quote by nom de plume

Quote by nom de plume

“Seberapa jauh kita melangkah dalam terang? seberapa dalam kita menyelam dalam gelap? apa cahaya yang menuntunmu atau gelap yang mengajarimu?”

Quote by nom de plume

Author

nom de plume

Browse famous quotes and profile details for nom de plume. more

You May Also Like

“Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025”

“Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025”

“PANGKUR : (Fragmentarium 20 Tikaman Sunyi) 1 Petir sumbang. Langit menegang, pelat baja dipalu dari sisi terdalamnya. 2 Hujan turun cairan asam: mengikis mata wajah tinggal topeng tanpa riwayat. 3 Dunia: arca yang disembah oleh bayang-bayang sendiri. Kesadaran: batu yang tak lagi mengingat wujudnya. 4 Musim menggeram. Setiap butir air menyimpan dendam yang tidak meminta ampun. 5 Manusia menelanjangi nama sendiri. Makian. Ancaman. Pisau tersembunyi di sela sendi. 6 Belati membelah tanah. Anak Adam melukail tidak membunuh, hanya memastikan yang lain masih berdarah. 7 Kemanusiaan menjadi kabut: ruh melayang, mencari raga yang hilang. 8 Abu menyelimuti wajah. Rambut kaku berdiri kawat meregang luka. 9 Nyeri merayap ke dasar tengkorak, seperti kawanan semut tersesat di rongga telinga. 10 Genderang perang bertalu. Langit menganga— menelan semua gerhana. 11 Di tanah ini, mimpi mati terlebih dulu. Merpati jatuh tertembak peluru gagal mengirim pesan. 12 Hujan tidak bernyanyi. Cuaca patah. Waktu terbelah. Bumi mengerut menjadi bangkai di paruh gagak. 13 Dubuk mencabik serpihan nama. Sejarah runtuh sebelum sempat ditulis. 14 Duri menajamkan bulu mata. Setiap helai rambut menghitung hari kematian dengan ketelitian seorang algojo. 15 Isak terperangkap, ruang tak mengenal waktu. Jerit menjadi kubur, cat mengelupas di dinding bunker. 16 Manusia lelah mencari nama. Nama lelah mencari manusia. 17 Peradaban tenggelam tanpa suara. Jelaga menggambar kerangka kota yang lupa asal-usulnya. 18 Siluet hantu melintas sunyi dengan mata menyala, bukan karena amarah— hanya tak punya tempat untuk kembali. 19 Mawar diinjak tanpa ritual. Tanpa pamit. Tanpa air mata. 20 Sunyi pecah. Waktu retak. Detak berhenti lalu diam, seperti kerikil kehilangan gravitasi. Desember 2025”