Quotessence
Home / Topics / Humanisme Quotes

Humanisme Quotes

Browse 41 quotes about Humanisme.

Humanisme Quotes

“Ketika pustaka tak mendapat tempat, literasi tak menjadi minat, buku-buku diberangus, ide-ide tak lagi dituangkan, gagasan-gagasan tak lagi diwujudkan, rasionalitas kerap dipersangkalkan, ilusi dan takhayul disakralkan, sikap perlawanan diharamkan, anarki diartikan kekacauan, dan pemberontak pola pikir dilabel anarkis, kematian intelektualitas sedang mengintai di balik pintu.”

“Maknai hidupmu dengan literasi dan aksi. Berkaryalah tanpa pamrih pundi-pundi. Jadilah benderang di tengah gulita, pencerah di antara keluguan pikiran yang memayoritas. Bergelimanglah dalam kearifan dan kemaslahatan. Kau adalah spesies unggul yang seharusnya mengajak kepada keunggulan, tidak kepada paradigma picik geosentris dan kecerobohan pola pikir.”

“Kau bukan manusia yang berpikir jika kau belum membangkang atas pikiran usangmu. Pembangkang superioritas akan selalu menemukan jalan untuk mengekspos propaganda busuk yang mengerdilkan logika dan mengebiri keluhuran kemanusiaan demi meraih kasta tertinggi inteligensi, manusia unggul yang memaksimalkan akal dibandingkan keyakinan semu dan delusi.”

“Sains tidak pernah mendiskreditkan agama, meskipun ia otonom dan bersifat bebas nilai, karena tujuan utamanya hanyalah mengungkap kebenaran secara terukur melalui sarana ilmiah. Lebih lagi, agama tidak akan pernah bisa dieradikasi oleh sains karena ia akan selalu menemukan pembenaran melalui ayat-ayat sucinya di setiap pengungkapan saintifik.”

“Tidak ada harga mati di sepanjang lorong sivilisasi, kecuali evolusi. Ia adalah hal yang tidak terelakkan. Evolusi adalah harga mati. Namun, harga yang bisa ditawar adalah resultan dari evolusi: deklinasi, stagnasi, atau eskalasi. Manusia memiliki potensi untuk merekayasanya. Namun, ia dibatasi oleh daur hidup yang terlimitasi. Ia berlomba dengan waktu, dan alam raya memiliki kuasa penuh untuk menavigasinya.”

“Tidak ada manusia waras yang anti terhadap humanisme. Manusia beradab adalah mereka yang antikeobsoletan, kebebalan, arogansi, dan kebiadaban. Kredo, agama, ketuhanan, kepercayaan, hingga spiritualitas sejatinya adalah sarana kemanusiaan—sebuah agen pencerah—maka ia harus bersifat fleksibel, karena evolusi adalah harga mati; ia tak terelakkan. Ketika sebuah ajaran arkais masih melestarikan dalil-dalil usang berdasarkan ketuhanan yang tidak selaras dengan kompromi moralitas universal yang terukur dan teruji, kesetaraan, diversitas, perkembangan zaman, dan kemajuan ilmu pengetahuan, maka ia menjadi ancaman bagi koeksistensi dan sepatutnya menempuh upaya moderasi. Asimilasi, integrasi, dan sinkretisme adalah keniscayaan, sebuah keharusan demi mencapai kulminasi kemanusiaan. Jika tidak, bersiaplah untuk ditelanjangi, dieliminasi, atau punah tergerus evolusi.”

“Tidak ada manusia waras yang anti terhadap humanisme. Manusia beradab adalah mereka yang antikeobsoletan, kebebalan, arogansi, dan kebiadaban. Kredo, agama, ketuhanan, kepercayaan, hingga spitualitas, sejatinya adalah sarana humaniora—sebuah agen pencerah, maka ia harus bersifat fleksibel, karena evolusi adalah harga mati, ia tak terelakkan. Ketika sebuah ajaran arkais masih melestarikan dalil-dalil usang berbasis ketuhanan yang tidak selaras dengan kompromi moralitas universal yang terukur dan teruji, kesetaraan, diversitas, perkembangan zaman, dan progres-progres sains, maka ia menjadi ancaman bagi koeksistensi dan sepatutnya menempuh upaya moderasi. Asimilasi, integrasi, dan sinkretisme adalah keniscayaan. Sebuah keharusan, demi mencapai kulminasi kemanusiaan, jika tidak, bersiaplah untuk ditelanjangi, dieliminasi, atau punah tergerus evolusi.”

“Tidak ada manusia waras yang anti terhadap humanisme. Humanisme bukan musuh Tuhan. Ia adalah upaya manusia menempatkan nilai pada manusia itu sendiri, tanpa perantara, tanpa ketakutan akan hukuman abadi. Maka ketika sebuah ajaran melestarikan nilai-nilai usang yang bertentangan dengan kesetaraan, keberagaman, dan perkembangan sains, ajaran itu bukan jalan pencerahan. Ia adalah virus mental yang menghambat evolusi kognitif.”

“Devenez si grand avec vos idées que vous devenez une menace pour tous les États nationalistes du monde. Devenez si grand avec l’inclusivité que vous devenez une malédiction pour toutes les institutions fondamentalistes du monde.”

“Je ne suis pas pour l'occupation d’un pays arabe par Israël, mais, en revanche, je ne veux pas remplacer Israël par une nation islamique qui s’insta1lerait sur ses ruines, et dont le seul souci serait de promouvoir une culture de mort et d’ignorance parmi ses fidèles, à une époque où nous avons désespérément besoin de ceux qui en appellent à une culture de vie et de développement, propre à cultiver l’espoir dans nos âmes. Regardons tous les pays fondés sur la pensée religieuse, regardons leurs peuples et les générations qui y grandissent; qu’offrent-ils en termes d’humanité et d’humanisme? Rien, c’est certain, sinon la peur de Dieu et l'incapacité à affronter la vie; rien d’autre. De telles pensées ont formé et continuent de former des générations inaptes à toute créativité, à toute culture, incapables même de s’inspirer des civilisations qui leur viennent d’ailleurs, puisqu’elles ne sont pas à même de construire la leur.”

“Kolonistene var jo tross alt visjonære i sin rasisme, det må vi huske. De hadde et mål om å sivilisere verden. Rasismen oppstod fordi mektige nasjoner ville annektere mer jord og svarte folk stod i veien for dem. Urbefolkningene ville ikke overleve møtet med den hvite mann. Ikke bare fordi han drepte dem med våpen, men også med virus og bakterier. Det var hele indianerstammer som ble utslettet av bihulebetennelser da de hvite kom til Amerika. En av konklusjonene ble dermed at det var mer barmhjertig å ta livet av dem med det samme. På dem måten var rasismen og humanismen tett forbundet.”

“Jo, men hva er omsorg? Hva er humant? Se på dette stedet; her tvinger vi folk som ikke vil leve, som koster staten millioner i utgifter hvert år, til å være i live. Noen har vært suicidale i flere år, og med god grunn, må leg legge til. De har gjort forferdelige ting. Men hver gang de endelig har klart å gjemme unna nok tabletter eller har et par minutter for seg selv med et skarpt verktøy lett tilgjengelig, braser noen inn til dem og sender dem på akuttpsykiatrisk. De får ikke lov til å dø. Er ikke det sprøtt? Vi tvinger folk til å leve et liv de ikke kan utholde. Er ikke det en form for tortur?”

“Tout révolté, par le seul mouvement qui le dresse face à l’oppresseur, plaide donc pour la vie, s’engage à lutter contre la servitude, le mensonge et la terreur et affirme, le temps d’un éclair, que ces trois fléaux font régner le silence entre les hommes, les obscurcissant les uns aux autres et les empêchent de se retrouver dans la seule valeur qui puisse les sauver du nihilisme, la longue complicité des hommes aux prises avec leur destin.”

“Si le temps de l’histoire n’est pas fait du temps de la moisson, l’histoire n’est en effet qu’une ombre fugace et cruelle où l’homme n’a plus sa part. Qui se donne à cette histoire ne se donne à rien et à son tour n’est rien. Mais qui se donne au temps de sa vie, à la maison qu’il défend, à la dignité des vivants, celui-là se donne à la terre et en reçoit la moisson qui ensemence et nourrit à nouveau.”