Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali, aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada. Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajah— yang memikul menara-menara mimpi yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai. Di sana, waktu tidak berjalan. Ia tergantung seperti jam yang mencair, mengalir dari dinding kesadaranku menuju lubang kelam tempat malaikat dan iblis berdesakan mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya. Serafim mencabut bulunya sendiri dan bulu itu berubah menjadi ular yang menyebut dirinya dengan seribu nama: Ashmedai, Azazel, Ashtaroth— nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut, namun kini bayangan itu datang kepadaku seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang. Aku bertanya padanya: “Apakah kita sedang bermimpi, atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?” Bayanganku menjawab dengan suara yang bukan suaraku: “Di sinilah eros dan tanathos menari. Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.” Dalam jeda itu, seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan. Dari balik taringnya, aku melihat wajahku sendiri— wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika. Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba melintas di atas kepalaku, aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur, dan iblis sedang melukis-nya kembali dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti. Malaikat-malaikat yang jatuh itu menabrak permukaan telaga, menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian. Aku mencoba menyentuhnya, namun jari-jari tangan ini berlubang seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan. “Apa yang kau cari?” tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi dengan mata penuh kesedihan purba. Aku tidak menjawab. Sebab seluruh jawabanku terbakar dalam pusat matahari yang ternyata bukan matahari, melainkan luka yang sedang berevolusi. Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak, aku melihat diriku sendiri —telanjang, kehilangan nama— dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi kilasan mimpi. Aku hanyalah kesadaran yang menetas dari absurditas yang membunuh egoku berulang kali agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta untuk dimengerti. November 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“In my experience an insane person (and I have met a few) is someone who believes that the entire universe and everything in it is conspiring against him. The sane person, on the other hand, is the one who believes that the entire universe and everything in it is conspiring for him. I, fortunately, am a denizen of the latter category. (p. 283)”