Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) II. Tarian Terakhir Hari pertama ia hadir, seperti hari yang tak pernah berakhir: menghitung sisa uang mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver, mempertaruhkan semuanya di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib. Harapan kuning keemasan, di atas angka dua belas, angka tertinggi— ia menari seperti Salome yang menuntut kepala Yohanes dalam satu putaran rahasia. Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri, melampaui bintang-bintang, melampaui tubuhnya sendiri: seperti Frida Kahlo yang menari dengan tulang punggung retak namun tetap memaksa hidup memandangnya. Potret kemasyhuran di dinding, berkejaran seperti hantu Billie Holiday, dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe yang tersenyum tepat sebelum runtuh. Ia mengejar audisi seperti seseorang yang mengejar Tuhan di lorong-lorong sempit Kafka. Makin dekat dengan kenyataan: Menari… seakan esok tubuhnya tak sanggup lagi berdiri. Menari… seperti setiap helaan napas mungkin adalah yang terakhir. Ia menerjemahkan dirinya serupa rembulan perak Virginia Woolf yang suatu hari meninggalkan jejak di permukaan air. Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus yang memantulkan firasat kematian. Rambut menyala seperti api— bintang kejora yang akan padam sebelum fajar mengenal namanya. Seekor angsa elok di antara para penari lain, namun kita tahu bagaimana nasib angsa dalam dongeng Andersen: keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota. Meja panjang dengan hidangan asing, bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami— seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing dan rembulan yang menangis. Ia bukan menulis puisi, ia sedang menulis obituari: riwayat singkat seorang penari muda yang mati saat mengejar mimpinya— seperti tokoh Son Mi-451 di Cloud Atlas yang mati dalam usaha membebaskan diri dari sistem yang mencabiknya jadi serpihan. Kisah penuh luka, kisah tanpa akhir bahagia: nirwana yang tak pernah ia capai, walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh, seluruh trauma, seluruh jiwa. Agustus 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Sang Penari III – Tarian di Antara Dua Dunia Ia terbangun di sebuah ruang yang tak memiliki dinding. Seolah ia masuk ke panggung mimpi Yasunari— di mana tubuh perempuan menari bukan sebagai gerakan, melainkan sebagai bayangan rasa bersalah yang lembut dan sekaligus mematikan. Dalam jarak yang liminal itu, ia melihat sosok dirinya menari seperti Chieko dari Beauty and Sadness— kesendirian yang membelah tubuh menjadi dua: yang menari demi cinta, dan yang menari demi luka yang tak terucap. Di ujung ruang itu, lampu neon berkedip. Tiba-tiba, sepasang kekasih muncul dari balik kegelapan— seperti dua hantu pop yang tersesat di klub malam muram era Tarantino. Mia Wallace menggigit bibir; Vincent Vega mengangkat bahu. Dan mereka mulai menari— gerakan pinggul, jentikan jari, putaran kepala— yang menertawakan kematian seakan ia sekadar “babak tanpa dialog” dalam kisah hidup manusia. Sang Penari menatap mereka, baik terpukau maupun tersayat: begitu ringannya mereka bercanda dengan kehancuran. Begitu mudahnya mereka menari di atas mayat takdir. Ia mencoba mengikuti langkah: dua ayunan tangan, rotasi kecil pinggang, gerak “twist” yang meminjam ritme rockabilly. Namun setiap gerakan membuatnya merasa seolah tulang-tulangnya adalah serat kaca yang akan pecah kapan saja. Dan dari jauh, hujan mulai turun— tapi bukan hujan muram seperti Bergman, melainkan hujan musikal ala Singin’ in the Rain. Saat Gene Kelly melompat dengan payungnya, memercikkan air ke segala arah dengan senyum polos yang mustahil dipercaya manusia modern. Sang Penari melihat keriangan itu dan mendadak dadanya ngilu: Bagaimana mungkin dunia sempat merasa sebahagia itu? Atau mungkin kebahagiaan itu cuma propaganda nostalgia yang kita tempelkan pada masa lalu agar ia tak terlihat mengerikan? Di belakangnya, dua lukisan muncul: Degas dengan para ballerina pucat yang tersenyum hanya untuk menutupi rasa nyeri di kaki mereka, dan Matisse dengan warna-warna api yang memaksa tubuh menari dalam dunia yang terlalu terang untuk manusia menyandang kesedihan. Keduanya seperti dua dewa kecil— satu merayakan disiplin, yang lain memuja ledakan spontan. Sang Penari merasa tubuhnya ditarik di antara dua estetika: kesempurnaan yang memaksa, atau kegilaan yang membebaskan. Dan ketika ia mulai menari, bayangan lain muncul: Michael Jackson mengenakan fedora putih, meluncur ke depan dengan anti-gravity lean. Siluetnya seperti tokoh malaikat jatuh yang memilih menjadi legenda daripada mati sebagai manusia biasa. “Beat it,” bisik MJ dalam seringai misterius, seakan menantang siapa saja yang berani menghalangi takdirnya. “Smooth criminal,” lanjutnya, seakan menegaskan bahwa kehidupan adalah perampokan yang dilakukan oleh waktu terhadap tubuh manusia. Sang Penari menutup mata. Ia menari. Ia hanyut. Ia memutar lingkaran-lingkaran mitos, mengumpulkan semua tarian dari zaman ke zaman dalam satu tubuh yang retak. Dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di pesta yang tak pernah tidur— rumah megah Fitzgerald, dengan lampu-lampu Gatsby berkedip seakan dunia tak akan pernah runtuh. Namun ia tahu: di balik pesta, selalu ada reruntuhan. Di balik tarian, selalu ada kubur. Di balik tubuh, selalu ada hantu. Dan semua itu menyatu dalam satu tarikan nafas. Agustus 2025”

“Sang Penari IV – Wawancara dengan Malaikat Pencabut Nyawa Ia duduk sendirian di sebuah ruang tunggu yang tampak seperti speakeasy era 1920-an. Musik jazz mendesing, lampu gantung berayun pelan, dan kaca-kaca retak memantulkan wajahnya seolah ia tak pernah sepenuhnya hadir. Di sofa merah yang terlalu empuk, duduklah Malaikat Pencabut Nyawa. Bukan bersayap. Bukan bersenjata. Hanya mengenakan jas putih seperti Gatsby sedang menunggu Daisy yang tak akan pernah datang. “Duduklah,” katanya. Suaranya lembut, seperti suara narator Kawabata ketika membaca kalimat tentang kesepian. “Engkau menari seperti orang yang ingin melupakan.” Sang Penari menggigit bibir. “Bukankah semua tarian adalah pelarian?” Malaikat itu tersenyum samar. “Tidak. Beberapa tarian adalah pengakuan.” Hening jatuh. Hening yang menyerupai jeda sebelum tembakan di akhir adegan Smooth Criminal. “Lalu tarian yang mana yang kulakukan?” “Yang membuatmu retak,” jawabnya, seperti seorang psikoanalis yang baru saja menemukan trauma inti. Sang Penari tak tahu apakah ia harus marah atau menangis. Ia hanya menatap ke arah panggung kosong, di mana bayangannya sendiri melakukan gerakan “twist” Pulp Fiction tanpa tubuh, tanpa wajah, hanya ritme yang memudar. “Apakah aku akan mati?” tanyanya. Malaikat itu mengangkat bahu. “Semua orang akan mati. Pertanyaannya adalah: apakah engkau ingin mati sebagai manusia yang menari, atau sebagai tubuh yang berhenti bergerak tanpa pernah tahu apa artinya hidup?” Tiba-tiba suasana berubah. Lampu-lampu padam. Satu sorot tunggal menyorot panggung. Malaikat itu menepuk tangan. “Ini audisi terakhirmu.” Di panggung, bayangan Degas muncul: ballerina yang letih, menjatuhkan kepalanya di atas selendang. Lalu Matisse: warna merah, biru, kuning meledak seperti ledakan batin yang tak bisa ia jinakkan. Lalu muncul MJ lagi— kali ini lebih gelap, lebih menyerupai siluet, lebih seperti dewa pergerakan yang memanggilnya: "Come on. Show me your last move." Sang Penari melangkah ke depan. Ia menari: sedikit twist ala Mia Wallace, sedikit slide ala Gene Kelly, sedikit lean ala MJ, sedikit patahan tubuh ala Degas, sedikit ledakan warna ala Matisse. Tubuhnya menjadi arsip segala tarian dunia. Menjadi museum luka. Menjadi perayaan. Menjadi ratapan. Dan ketika tarian itu selesai, Malaikat itu berdiri. Bertepuk tangan. Pelan. Menyakitkan. “Sekarang aku tahu,” katanya. “Apa?” “Engkau menari bukan untuk menjadi abadi. Engkau menari untuk mengembalikan dirimu dari segala kenangan yang telah mencuri hidupmu.” Sang Penari terdiam. Napasnya membatu. Dadanya retak oleh sesuatu yang bukan penyakit. “Dan apakah aku sudah kembali?” Malaikat itu menggeleng lembut. “Belum. Tapi aku akan memberitahumu, ini adalah titik di mana engkau menghilang.” Agustus 2025”

“SANG PENARI V — Wirasa para Bayang Penanda Pada malam di mana kota kehilangan listrik dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan, Sang Penari memasuki ruang kosong yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh. Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua. —Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”— Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan. Setiap denting langkah Sang Penari menghidupkan memori ratusan aktor yang pernah mengabdi pada ritual panggung yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah. Hannya berbisik: “Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.” Dan Sang Penari pun bergerak seolah sedang kerasukan, memanggil monster yang ia takutkan. —Bayang Lorca di Granada— Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca, penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi. Tubuhnya yang tak ditemukan mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu. Ia membawa gitar patah, dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara yang pernah memakan generasi muda Spanyol. “Tarianmu bukan hiburan,” katanya, “itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.” Sang Penari menekuk tubuhnya seperti ingin memecahkan waktu dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang. —Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan— Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu, gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar seperti burung yang gagal melintasi api neraka. Ia menari pelan, penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan. “Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,” bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya. “Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.” Dan Sang Penari mengikuti geraknya: sebuah tarian kematian yang memurnikan diri. —Bayang Bhairava — Penari Kosmik India— Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva, penari yang menari untuk menghancurkan dunia agar dunia dapat dilahirkan kembali. Rambut gimbalnya menyulut angin hitam, lonceng-lonceng di pergelangan kakinya menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan. “Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara, “tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.” Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat, meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya seperti sisik ular yang terkelupas. Agustus 2025”

“Sang Penari VI — Perjumpaan Puncak — Litani Penanggalan Roh— Keempat empu itu mengitari Sang Penari seperti konstelasi gelap yang menolak memberikan arah. Topeng Hannya—membuka rahasia luka batin yang ia simpan sejak remaja. Lorca—memberinya bahasa untuk mengutuk ketidakadilan yang ia alami. Pavlova—mengajarinya bahwa keanggunan adalah bentuk terakhir dari keputusasaan. Bhairava—menuntut ia menghabisi semua bentuk “aku” yang masih ia genggam. Sang Penari bergerak di tengah mereka, gerakannya membentuk huruf-huruf tak dikenal seperti alfabet kuno dari peradaban yang hilang. Ia menari sampai tubuhnya bukan tubuh, waktu bukan waktu, dan seluruh ruangan berubah menjadi ruang batin. Di puncak putaran terakhir, ia merasakan dirinya terbelah: separuh menjadi angin, separuh menjadi debu, separuh lagi menjadi sesuatu yang tak memiliki wujud namun menyimpan kecerdasan tak terlukiskan. Dan tiba-tiba, sunyi. Hannya jatuh menjadi topeng kosong. Lorca lenyap seperti tembakan yang tak punya peluru. Pavlova memudar menjadi serbuk putih. Bhairava kembali menjadi cahaya merah gelap yang mengalir ke tanah seperti darah dari dimensi lain. Sang Penari berdiri sendirian. Tapi ia bukan lagi manusia. Ia adalah penanda, arsip hidup tentang apa yang terjadi ketika seseorang menari sampai inti jiwanya menghilang. Dan dari ruang gelap itu, sebuah suara tanpa bentuk terdengar: “Kini kau bukan lagi penari. Kau adalah tarian itu sendiri.” Agustus 2025”

“KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 1. Kidung Duri yang Direbus Matahari (Historical—Politics) Kaktus tumbuh dari bara, dari dada bumi yang retak oleh lapar dan dahaga yang diseret angin. Ia berdiri seperti—lelaki hijau— menyimpan segenggam air seperti seorang ibu menyimpan roti untuk anak satu-satunya. Duri-durinya mengingatkan aku pada teriakan pedagang garam, pada nyanyian buruh nelayan yang patah di bawah peluit penguasa. Kaktus, tubuh kecil yang keras, yang tetap hidup ketika cinta laki-laki diseret banjir sejarah. Ia menyimpan matahari begitu lama hingga panasnya menjadi bahasa, dan aku membaca padanya sebuah puisi yang tak menginginkan apa pun selain bertahan dari luka, bertahan dengan cara paling indah. 2. Kesunyian Sukubus Hijau (Dialectical—Paradox) Di tengah gurun yang gemetar, kaktus memanggul diam. Di dalam diam itu mengalir jam pasir yang balik, menghapus langkah-langkah yang belum sempat kita buat. Duri adalah kata yang menahan napasnya sendiri. Luka yang ingin menjadi bahasa, bahasa yang ingin menjadi tubuh. Aku mendekat, dan waktu runtuh seperti bayangan tanpa raga. Kaktus membuka ruang— ruang yang menatapku kembali: sebuah mata tak bernama yang mengingatkan bahwa seluruh rasa sakit berasal dari ketidaksabaran untuk menjadi abadi. Dan di sana aku melihat wajahku yang tidak hidup, tidak mati, hanya bergerak seperti pasir dihisap rembulan. 3. Opera Duri Hitam (Hallucinatory—Symbolism) Aku melihatnya: sebuah menara hijau yang terbakar di padang pasir violet, tempat angin berteriak dengan lidah logam. Kaktus itu bangkit dari mimpi setan mabuk, mengibar seperti bendera yang pernah dicium matahari hitam. Duri-durinya melesat— meteor kecil yang menyanyikan napalm. Aku mendengar gelaknya, gelak anak yatim yang menelan badai. Dan ketika bayanganku mencoba pulang, kaktus itu menelannya, membuatku tercerai menjadi warna-warna yang tidak dikenal bunga mana pun. Aku pun berjalan tanpa tubuh, mengikuti kaktus seperti nabi gila yang kehilangan kitabnya di bawah jam yang menembak dengan peluru cahaya.”

“KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 4. Cahaya Duri (Surreal—Minimalism) Di gurun yang tak berkepala, sebuah kaktus berdiri. Sebutlah ia yang kembali tanpa pulang. Padanya, duri menahan angka— angka yang gugur sebelum sempat dikubur. Air yang disimpan batangnya adalah nama yang tidak diucap. Nama yang mengalir melalui kebisuan yang memotong udara tanpa pisau. Setiap malam, kaktus itu menumbuhkan bayangan baru: lebih pendek, lebih hening, seperti doa yang kehilangan pemiliknya. Aku menyentuhnya. Ia tidak berdarah. Aku yang berdarah. 5. Pemakan Duri (Psychic—Introspection) Kaktus ini— aku kenal jenisnya. Tubuh yang tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menusuk siapa. Aku melihat diriku dalam tiap duri: anak perempuanku yang gemetar di sudut kamar ketika jam berdetak seperti gigi ayahku. Kaktus memakan matahari dan kembali dengan wajah lebih pucat. Aku memakan durinya di dalam mimpi, membiarkan sakitnya menjadi mahkota kecil yang kuberi nama ketabahan. Dalam batang hijau itu ada ruang untuk seluruh tangisku yang tak pernah keluar. Maka biarlah ia hidup: satu-satunya tanaman yang mengerti bagaimana luka bisa menjadi pekerjaan harian. 6. Romansa Kaktus Malam (Tragic—Magic) Bulan berkibar di atas gurun Andalusia. Di sana kaktus bernyanyi— suara yang dicuri dari tenggorokan seorang gitano yang mati muda. Duri-durinya menari seperti penari flamenco tanpa kaki. Angin membawa napas hitam dari kampung-kampung yang dibakar takdir. Kaktus memanggilku, dan aku datang membawa biola patah yang masih mengingat lagu masa kecilku. Kami menyanyi bersama— lagu hijau, lagu sedih, lagu yang bila kau dengar akan membuat langit turun setinggi bahu anak kecil. Di akhir malam, kaktus itu mati. Tetapi suaranya tinggal di aku, seperti duende yang tak mau pergi dari dada penyair. Desember 2025”

“RUMAH SUNYI YANG TAK MEMILIKI TUHAN (Pergulatan Batin Hang Tuah Sebuah Resonansi Metafisik) Hujan menitik dari atap reyot, jatuh perlahan ke lantai kayu seperti detak jantung yang tak percaya pada hidup yang masih tersisa. Kamera bergerak menyilang tubuhku, menangkap butir air yang tertahan di ujung rambut —seolah memori enggan jatuh karena tahu tanah tak lagi suci. Di sudut gelap, kulihat Jebat duduk membelakangi cahaya. Silau senjata di pangkuannya terasa seperti bisikan dingin yang tak pernah memilih kata. “Aku tidak memberontak,” katanya nyaris tak terdengar. “aku hanya menolak menjadi diam.” Namun Hang Tuah dalam diriku masih berdiri seperti batu nisan, teguh. Terlalu setia pada perintah yang bahkan tak lagi diyakini langit. Aku menoleh, dan dalam pantulan air yang menggenang kulihat dua wajahku sendiri: yang satu membeku, yang satu retak. Hujan di luar tak lagi turun— ia seperti menggantung di udara, ditahan oleh waktu yang membisu. Dan dalam hening itu, aku mengerti: bukan Tuah yang benar, bukan Jebat yang salah, bukan dunia yang memilih. Yang ada hanya jiwa yang mencari ruang untuk tidak patuh dan tidak pula membangkang, tapi sekadar ingin bernafas tanpa diadili oleh sejarah. Desember 2014”