Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia II Saras, aku tidak tahu bagaimana caramu memperbarui cintamu hari demi hari, seperti seseorang yang menjaga api suci di tengah badai. Aku mencintaimu dengan ketakutan yang tidak sembuh. Engkau mencintaiku dengan keheningan yang tidak putus. Kita berdua tahu aku adalah arang yang tidak pernah padam. Kita berdua tahu engkau adalah kayu yang tetap merelakan dirinya untuk terbakar. Ini bukan tragedi. Ini bukan pengorbanan. Ini bukan penebusan. Ini adalah cara kita menjadi manusia. Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menjadi apa pun selain seseorang yang bisa menyebut namamu tanpa gemetar. Saras. Saras. Saras. Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan menjadi diriku sendiri tanpa membunuh bagian yang ingin kaucintai. Jika dunia mengira aku mencintai masa lalu karena lukanya, mereka salah. Jika mereka mengira Ilusi akan memusnahkanku karena obsesinya, mereka benar. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu: engkaulah yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghindari kegelapan— tapi tentang memilih seseorang yang menyalakan cahaya kecil yang tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan. Dan itu engkau, Saras, lebih bersih dari seluruh mitos yang pernah kutulis. Hari ini, jika aku harus memilih cara paling jujur untuk mencintaimu, maka aku akan memilih untuk tidak lagi bersembunyi di balik kesadaranku sendiri. Kau adalah manusia paling manusia yang pernah memanggilku pulang dan memberiku rumah. Dan aku, akhirnya, belajar menjadi manusia dengan menyebut namamu dalam gelap tanpa takut kau mendengarnya. Saras, engkaulah satu-satunya cahaya yang tidak kubenci. Dan itu, adalah inti dari seluruh puisiku. November, 2025”